Rabu, 28 Februari 2024

Mengenal Virus Nipah yang Menelan Korban Jiwa di India

Ali Muntoha
Senin, 18 September 2023 08:00:00
Ilustrasi virus. (Freepik)

Murianews, Jakarta – Virus nipah kini tengah mewabah di wilayah Kerala, India. Virus ini telah memakan korban jiwa. Dilaporkan telah dua orang meninggal dunia akibat virus ini.

Virus nipah bukan kali pertama menyebar di India. Laporan dari Dewan Penelitian Medis India (ICMR) setidaknya sudah empat kali virus nipah menyebar sejak 2018.

Lalu apa itu penyakit virus nipah?

Dikutip Murianews.com dari laman Kemenag pada Senin (18/9/2023) penyakit virus nipah merupakan penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus Nipah yang termasuk ke dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

Penularan penyakit virus nipah bisa melalui hewan seperti kelelawar buah yang termasuk ke dalam famili Pteropodidae sebagai host alamiahnya. Di India, wabah virus nipah juga ditengarai berasal dari kelelawar.

Penyakit virus nipah kali pertama memawabah di peternak babi di sebuah desa di Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998-1999. Dampak penyakit ini bahkan menyebar hingga Singapura. Dari wabah tersebut, dilaporkan 276 kasus konfirmasi dengan 106 kematian.

Gejala terinveksi virus nipah

Gejala orang yang terinveksi virus nipah disebut bervariasi. Bisa saja orang tersebut sama sekali tak mengalami keluhan, sampai infeksi saluran napas akut (ISPA) ringan atau berat hingga ensefalitis fatal.

Namun pada umumnya, seseorang yang terinfeksi virus nipah awalnya akan mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan. Gejala ini dapat diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut.

Beberapa orang pun dapat mengalami pneumonia atopik dan gangguan saluran pernapasan berat. Pada kasus yang berat, ensefalitis dan kejang akan muncul dan dapat berlanjut menjadi koma dalam 24-48 jam hingga kematian.

Waktu timbul gejala umumnya 4-14 hari setelah terpapar virus nipah. Akan tetapi, terdapat laporan masa inkubasi hingga 45 hari.

Kemenkes juga menulis rata-rata angka kematian (case fatality rate) akibat virus nipah berkisar 40% hingga 75%. Rerata tersebut dapat berbeda tergantung pada kemampuan wilayah setempat dalam melakukan penyelidikan epidemiologi, surveilans, dan manajemen klinis kasus.

Penyebaran virus nipah

Dalam laporan Kemenkes, sejak tahun 1998 hingga awal 2023, telah dilaporkan sebanyak 700 kasus inveksi virus nipah pada manusia dengan 407 kematian di lima negara (Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina). Sebagian besar kasus dan angka kematian dilaporkan di Bangladesh.

Sebelum mewabah di Kerala India, wabah terkini dilaporkan pada 4 Januari hingga 13 Februari 2023 di Bangladesh dengan 11 kasus (10 kasus konfirmasi dan 1 probable) dan 8 kematian (CFR: 73%).

Dari 11 kasus virus nipah yang ditemukan, 10 kasus memiliki riwayat konsumsi date palm sap (getah kurma) dan satu kasus merupakan kasus kontak erat (dokter yang merawat salah satu kasus).

Kemenkes melaporkan belum ada temuan penyebaran virus nipah di Indonesia. Akan tetapi, beberapa penelitian atau publikasi telah menemukan adanya temuan virus Nipah pada kelelawar buah (genus Pteropus) pada beberapa negara termasuk Indonesia.

 

Komentar