Rabu, 28 Februari 2024

Analisis Indef:  80,77 Persen Masyarakat Tidak Setuju Kebijakan Subsidi Kendaraan Listrik

Cholis Anwar
Senin, 22 Mei 2023 21:52:16
Presiden Jokowi bersama Mobil Listrik bikinan Hyundai usai peletakan batu pertama pabrik baterai kendaraan listrik. (Instagram/@jokowi)
Murianews, JakartaInstitute for Development of Economics and Finance (Indef) melakukan analisis respon masyarakat pengguna aktif media sosial terkait kebijakan subsidi kendaraan listrik yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hasilnya, 80,77 masyarakat menyatakan tidak setuju. Data Analyst Continuum Indef, Wahyu Tri Utomo mengatakan, analisis ini dilakukan dengan pendekatan big data melalui media sosial Twitter. Dalam hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa 80,77 persen masyarakat yang aktif di internet tidak setuju dengan kebijakan subsidi kendaraan listrik dan mereka mengkritik kebijakan tersebut. ”Melihat lebih detail, kita coba akumulasi ada 58,6 persen atau hampir 60 persen itu kritik masyarakat itu didasarkan pada penilaian bahwa subsidi kendaraan listrik hanya menguntungkan segelintir pihak,” ujar dia mengutip Tempo.co, Senin (22/5/2023). Baca: Ini Rekomendasi Situs Jual Beli Mobil untuk Mencari Kendaraan Idaman Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan dari kritik tersebut, hampir 60 persen kritik berasal dari penilaian bahwa subsidi kendaraan listrik hanya menguntungkan segelintir pihak. Masyarakat merasa bahwa subsidi tersebut hanya menguntungkan pembeli kendaraan listrik yang tidak membutuhkan subsidi atau orang-orang yang memiliki kekuasaan dan menjadi pengusaha. Masyarakat juga berpendapat bahwa subsidi seharusnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup banyak orang. ”Masyarakat mempertanyakan kalau minat pasarnya tinggi kenapa masih disubsidi. Untuk apa subsidi itu? Kemana? Untuk siapa subsidinya? Ini pertanyaan yang sering digaungkan warganet,” tutur Wahyu. Selain itu, kritik lain yang diajukan masyarakat terkait subsidi kendaraan listrik adalah terkait penggunaan baterai mobil listrik yang masih menggunakan energi fosil atau batu bara, sehingga dianggap tidak mengurangi polusi. Ada juga pendapat bahwa meskipun tanpa subsidi, minat pembeli terhadap mobil listrik sudah tinggi, sehingga masyarakat mempertanyakan alasan di balik pemberian subsidi tersebut. Namun, terdapat pandangan positif dalam perbincangan mengenai subsidi kendaraan listrik. Beberapa masyarakat melihat mobil listrik sebagai solusi yang dapat mengurangi emisi karena tidak menghasilkan emisi berbahaya, seperti kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil. Terkait hasil analisis ini, Wahyu menjelaskan bahwa data yang digunakan berasal dari 18.921 pembicaraan di Twitter yang melibatkan 15.139 akun dalam rentang waktu 8-12 Mei 2023. Twitter dipilih sebagai platform penelitian karena dianggap representatif dalam menangkap aspirasi, kritik, dan masukan masyarakat terkait isu sosial, politik, dan kebijakan pemerintah. Baca: Kendaraan Listrik Dikritik Anies, Luhut Beri Jawaban Menohok Data yang diambil kemudian disaring untuk menghilangkan akun media atau buzzer, sehingga analisis dapat dilakukan terhadap perbincangan yang melibatkan pengguna asli, termasuk analisis terhadap exposure, sentimen, dan topik pembicaraan. ”Setelah kita ambil datanya, kita collect datanya kita coba bersihkan dari akun media atau  dari buzzer. Sehingga harapannya perbincangan didapatkan dari user asli saja setelah itu kita lakukan analisis untuk exposure, sentimen, dan juga topik perbincangan,” tutur Wahyu.

Baca Juga

Komentar