Rabu, 21 Februari 2024

Banjir di Ketapang Kalbar Surut, BPBD Tetap Siaga Bencana Susulan

Dani Agus
Sabtu, 9 Desember 2023 22:08:00
Banjir tampak sudah mulai surut di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (09/12). Kendati demikian tim BPBD setempat masih tetap siaga. (BPBD Kabupaten Ketapang)

Murianews, Ketapang – Bencana banjir yang melanda enam wilayah kecamatan di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, sudah surut. Meski demikian, pihak BPBD setempat masih tetap bersiaga mengantisipasi bencana susulan.

Banjir tersebut sudah sering kali terjadi sejak 24 November 2023 hingga Sabtu (09/12/2023). Penyebab banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan luapan air sungai memasuki permukiman warga. Akibat banjir, total sebanyak 20.916 jiwa yang meliputi 6.603 keluarga tercatat turut terdampak.

Laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, enam kecamatan yang terendam banjir dengan ketinggian muka air mencapai 200 sentimeter ini di antaranya meliputi Kecamatan Nanga Tayap, Sandai, Hulu Sungai, Tumbang Titi, Sungai Laur, dan Muara Pawan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang Yunifar mengonfirmasi, banjir yang terjadi karena dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi di daerah hulu. Kendati demikian, Yunifar menyampaikan, hingga Sabtu (9/12/2023) siang ini, banjir yang merendam terpantau sudah mulai surut hampir di semua kecamatan. 

”Kami bisa sampaikan Alhamdulillah sudah 80 bahkan di beberapa lokasi sudah 100 persen surut semua, makanya saya tidak ada update terkini. Cuma langit sudah hitam lagi. Kalau hulu hujan itu pasti di beberapa kecamatan yang rawan banjir akan tergenang lagi. Seperti saat ini di Ketapang sudah hampir tiga kali naik turun banjirnya,” ungkap Yunifar.

Yunifar menjelaskan, persoalan banjir seolah menjadi masalah klasik di wilayahnya. Hal tersebut terjadi lantaran semakin banyaknya permukiman di bantaran sungai yang tidak tertib serta akumulasi dampak dari berubah fungsinya hutan menjadi perkebunan.

Lanjut Yunifar menyampaikan, guna merespon kondisi banjir yang sering terjadi pihak BPBD Kabupaten Ketapang menyiagakan personel untuk memonitor setiap wilayah yang rawan banjir dengan berkoordinasi bersama perangkat kecamatan. Selain itu, jika air mulai naik kembali BPBD Kabupaten Ketapang melakukan penanganan dengan cara penguraian cepat menggunakan mesin sambil memantau debit air di kawasan sungai.

”Saat ini memang masih berstatus tanggap darurat sejak 24 November sampai tanggal 11 Desember besok. Jadi, kami sampai saat ini meski banjir sudah surut kami tetap bersiaga dan memonitor debit air di sungai. Nanti di tanggal 11 kami akan koordinasi dengan BMKG dan pemda jika memang didasari prediksi BMKG masih tinggi (curah hujan) kita akan perpanjang masa tanggap darurat,” terang Yunifar.

Komentar