Jumat, 23 Februari 2024

Dua Polisi di Grobogan Ini Kompak Nyambi jadi Petani Bawang Merah

Saiful Anwar
Senin, 2 Oktober 2023 17:24:00
Briptu Wachid saat berada di sawahnya di Desa Pengkol, Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah. (Murianews/Istimewa)

Murianews, Grobogan – Pasangan suami istri (pasutri) sesama anggota Polisi di Grobogan, Jawa Tengah ini kompak menjadi petani bawang merah. Keduanya tak malu meski pilihannya tak banyak dilakukan sesama anggota korps Bhayangkara lainnya.

Pasutri tersebut yakni Briptu Wachid Asrori Hidayat dan Brigadir Mega. Keduanya, sama-sama bertugas di Poles Grobogan.

Sehari-hari, Briptu Wachid berada di bagian Hubungan Masyarakat (Humas). Sedangkan, sang istri di bagian Sumber Daya Manusia (SDM).

Pasutri yang menikah pada 2021 itu tak malu bertani bawang merah di lahan setengah hektar di Desa Pengkol, Penawangan, Grobogan. Bertani menjadi kegiatan mengisi waktu luang di sela kesibukannya sebagai anggota Polri.

”Penghasilan yang kami miliki dikumpulkan untuk membeli sawah. Investasi untuk masa depan, istilahnya. Lahannya setengah hektar, kami tanami bawang merah,” ujar Briptu Wachid, Senin (2/10/2023).

Wachid mengaku memang berasal dari keluarga petani. Dia pun sejak kecil bercita-cita menjadi polisi. Dia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi anggota Korps Bhayangkara sejak 2015 lalu.

”Orang tua petani. Kebetulan, sejak kecil memang saya cita-citanya jadi polisi. Kami belajar bertani dari bapak saya,” imbuhnya.

Sepulang bekerja, Wachid dan istri langsung berbecek ria dengan lumpur di sawah. Saat mulai bertani, Wachid mengaku menghabiskan modal hingga Rp 30 juta sekali tanam. 

”Pulang kerja, istirahat sebentar, kemudian ke sawah. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan. Modalnya sekitar Rp 30 juta,” ucapnya.

Modal yang besar itu memberikan keuntungan yang besar pula saat panen. Wachid mengaku laba kotor yang diterimanya mencapai sekitar Rp 120 jutaan.

”Tetapi kalau harga bawang merah rendah di pasaran, hanya bisa balik modal,” kata dia.

Karena kesibukannya sebagai polisi, tentu tak semua pekerjaan sawah dilakukan sendiri. Maka, mereka pun mempekerjakan orang.

”Saya mempekerjakan orang untuk menyemprot hama-hama ini. Kendalanya yang lain, kalau tidak ada air kita terpaksa beli air di sumur orang, per jam Rp 50 ribu untuk tiga hari,” ujarnya.

Wachid menilai mengaku tak malu bertani. Meski, banyak anak muda saat ini yang enggan untuk bertani sebagai ladang pekerjaan mereka.

”Padahal Indonesia adalah negara agribisnis. Kita punya alam yang indah dan berlimpah-limpah. Saya masih muda dan memilih investasi untuk pertanian,” tandasnya.

 

Reporter: Saiful Anwar

Komentar