Jumat, 23 Februari 2024

Jateng Dapat Jatah Rp 344 M dari Pusat untuk Turunkan Stunting

Umar Hanafi
Senin, 6 November 2023 14:30:00
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana saat mengunjungi Kabupaten Pati, Senin (6/11/2023). (Murianews/Umar Hanafi) 

Murianews, Pati – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mendapatkan jatah Rp 344 miliar dari Pemerintah Pusat untuk menurunkan angka stunting pada tahun 2023 ini. 

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana mengatakan dana ini sebagian besar telah disalurkan ke kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten (Pemkab) maupun Pemerintah Kota (Pemkot) di Jateng pun diminta optimal menurunkan stunting

”Kita ada bantuan dari Pemerintah pusat. Sudah terserap 74 persen. Masih ada 26 persen dimanfaatkan untuk penanganan stunting. Nominal Rp 344 miliar dalam setahun di bagi-bagi ke Kabupaten/kota. Insyaallah semua bisa diserap,” ujar Nana Sudjana di Pendapa Kabupaten Pati, Senin (6/11/2023).  

Dana ini dianggarkan untuk penanganan stunting. Seperti pemberian bantuan gizi tambahan bagi bayi dan balita yang terindikasi stunting

Diharapkan besarnya dana ini bisa menurunkan angka stunting di Jawa Tengah. Mengingat pada tahun 2022 lalu, angka stunting di provinsi ini tergolong tinggi. Yakni sebesar 20,8 persen.

Pada akhir tahun lalu, hanya 15 kabupaten/kota yang mengalami penurunan stunting. Kota Semarang dari 21,3 persen menjadi 10,4 persen. Demak dari 25,5 persen menjadi 16,2 persen. Jepara dari 25 persen menjadi 18,2 persen. 

Lalu, Tegal dari 23,9 menjadi 16,8 persen. Diikuti 11 kabupaten/kota lainnya. Sementara sebanyak 20 kabupaten/kota lainnya mengalami kenaikan angka stunting.

Pihaknya pun menargetkan presentasi angka stunting ini turun menjadi 14 persen pada akhir tahun 2024 mendatang. Maka dari itu, perlu intervensi dari setiap level pemerintahan. 

”Tim dari Polda turun, kepala daerah untuk lebih optimal. Stunting ada kaitannya dengan kemiskinan. Kita angkat stunting. Kita lakukan gerakan pasar murah, bantuan, beli tanah dapat rumah Rp 38 juta untuk membangun rumah. Yang bersangkutan benar-benar miskin ektrem,” tutur dia. 

 

Editor: Supriyadi

Komentar