Senin, 4 Maret 2024

Sumbu Filosofi Yogyakarta Tak Sekadar Tata Kota, Tapi...

Vega Ma'arijil Ula
Rabu, 20 September 2023 17:23:00
Ilustrasi Sumbu Filosofis Yogyakarta. (Istimewa/alif.id)

Murianews, Kudus – UNESCO menetapkan Sumbu filosofi Yogyakarta ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Penetapan itu dilakukan dalam Sidang ke-45 Komite Warisan Dunia atau World Heritage Committe (WHC) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (18/9/2023) malam waktu Indonesia.

Diketahui, Sumbu Filosofi Yogyakarta ini adalah garis imajiner yang membentang lurus dari Pantai Selatan, Panggung Krapyak, Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, Alun-Alun Lor Yogyakarta, Tugu Pal Putih atau Tugu Yogyakarta, dan Gunung Merapi.

Menurut Fahmi Prihantoro, Arkeolog UGM, sumbu filosofi itu dibangun Raja Pertama Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I pada 1755. Sumbu filosofi Yogyakarta itu tak lepas dari kepercayaan orang Jawa zaman dahulu.

”Orang zaman dulu itu percaya dengan simbol-simbol. Sumbu filosofi itu sebagai simbol kehidupan manusia menuju Tuhan. Jadi bukan hanya sebatas tata kota melainkan ada unsur kehidupan,” katanya saat dihubungi Murianews.com, Rabu (20/9/2023).

Fahmi menjelaskan, sumbu filosofi merupakan bentuk keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya atau Hablum Minallah, manusia dengan manusia atau Hablum Minannas, dan manusia dengan alam.

”Sumbu filosofi Yogyakarta ini merupakan bentuk kekhasan orang Jawa yang identik dengan kepercayaan,” sambungnya.

Dirinya berharap, penetapan sumbu filosofi Yogyakarta oleh UNESCO dapat disosialisasikan ke masyarakat luas. Selain itu juga dirawat dengan baik agar tetap menjadi warisan budaya dunia.

”UNESCO tentunya tetap akan memantau perkembangan sumbu filosofi ini ke depannya. Ketika nantinya ada bagian yang hilang atau rusak bukan tidak mungkin dapat ditarik kembali,” terangnya.

 

Editor: Zulkifli Fahmi

Komentar