Rabu, 21 Februari 2024

Dokter Gadungan di Surabaya Pernah jadi Dirut RS di Grobogan

Zulkifli Fahmi
Rabu, 13 September 2023 17:28:00
Ilustrasi dokter gadungan. (Murianews/Nafis)

Murianews, Grobogan – Dokter gadungan di Surabaya, Susanto ternyata pernah beraksi di Kabupaten Grobogan. Bahkan, ia pernah diangkap menjadi Direktur Rumah Sakit swasta di Grobogan.

Dari hasil pemeriksaan polisi ke Yayasan RS Habibullah Grobogan, Susanto pernah diangkat menjadi Dirut di tahun 2008. Sebelumnya, pada 2006, Susanto juga menjabat sebagai Kepala UTD selama tiga tahun dari 2006-2008 di PMI Grobogan.

Selain itu, ia juga merangkap sebagai dokter di Puskesmas Gabus di Grobogan selama sekira satu tahun. Di tiga tempat tersebut, pelaku memakai nama dokter Susanto.

Ketua IDI Grobogan Djatmiko membenarkan, dokter gadungan Susanto pernah bekerja di Kabupaten Grobogan. Kasus itu terjadi belasan tahun lalu.

Djatmiko mengatakan, tahun lalu pihaknya mengaku dihubungi dr Susanto. Ia meminta bantuan untuk memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR) dokter miliknya.

”Saat kami minta bukti ijazah, identitas kartu IDI, dan KTP, dia tidak kirim. Saat itu, ia mengaku STRnya habis dan mau diperpanjang,” katanya, Rabu (13/9/2023).

Djatmiko sendiri pernah dihubungi rumah sakit di Kalimantan saat kedok Susanto terbongkar di sana. Ia pun mendapat konfirmasi bila Susanto melakukan penipuan.

Diketahui, Sutanto tertangkap di Cepu Jawa Tengah karena telah menjadi dokter gadungan dan bekerja di klinik K3 Pertamina. Sebelumnya, Susanto juga pernah ditangkap dengan aksi yang sama pada wilayah Kalimantan 2011 lalu.

Dikutip dari Tribunnews.com, selain di Grobogan, dokter gadungan Susanto pernah bekerja di RS Gunung Sawo selama Februari-April 2008, RS Pahlawan Medical Center Kandangan Kalimantan Selatan.

Baru lima hari bekerja di RS Pahlawan Medical Center, kedok Susanto akhirnya terbongkar. Ia ketahuan grogi dan hampir salah penanganan. Ia kemudian divonis 20 bulan.

Susanto kemudian melakukan aksi penipuannya kembali sebagai dokter gadungan. Itu setelah ia melamar lowongan kerja di PT Pelindo Husada Citra.

Saat beraksi, ia merekayasa dokumen seorang dokter asal Bandung, dr Anggi Yurikno hingga berhasil diterima kerja. Ia kemudian bekerja sebagai dokter klinik K3 wilayah Pertamina di Cepu.

Dua tahun bekerja, Susanto menerima gaji Rp 7 juta plus tunjangan tiap bulannya. Kedok Susanto akhirnya terungkap saat perusahaan akan memperpanjang kontrak kerjanya. Kini, Susanto telah diadili di Pengadilan Negeri Surabaya.

Sementara itu Direktur Utama PT PHC dr Subardjo mengaku telah kecolongan. Meski begitu, ia memastikan bahwa tidak ada pasian yang menjadi korban.

Sebab, selama bekerja di klinik, Susanto hanya mengecek kesehatan pekerja Pertamina sebelum bekerja bukan memberi resep obat.

Komentar