Rabu, 21 Februari 2024

Mengapa Masih Ada Pendakian saat Marapi Meletus? Ini Kata BKSDA

Zulkifli Fahmi
Senin, 4 Desember 2023 12:23:00
Petugas melakukan evakuasi pendaki yang terjebak erupsi di Gunung Marapi Sumbar. (Basarnas Padang)

Murianews, Padang – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) menutup seluruh jalur pendakian Gunung Marapi. Namun, penutupan dilakukan justru setelah gunung di wilayah Tanah Datar dan Agam itu meletus.

Penutupan itu disiarkan di akun Instagram resmi BKSDA Sumbar, @bksda_sumbar, Senin (4/12/2023), pagi tadi. BKSDA Sumbar mengatakan, penutupan jalur pendakian dilakukan sampai waktu yang belum ditentukan.

”Untuk pendaki yang sudah memboking bisa di reschedule jadwalnya silahkan hubungi admin pendakian TWA Gunung Marapi, Terima Kasih,” tulis BKSDA Sumbar, seperti dilihat Murianews.com Senin (4/12/2023).

Penutupan jalur pendakian yang dilakukan setelah terjadinya erupsi ini kemudian menimbulkan pertanyaan. Sejumlah warganet pun menanyakan keputusan yang baru dilakukan usai kejadian erupsi itu.

”Baru sekarang??? Kok bisaa??,” tulis @novia.utamii.

Warganet lainnya pun menanyakan, apakah BKSDA Sumbar tidak mendapat informasi terkait sinyal pendeteksi status Gunung Marapi. Selain itu, ada juga yang mempertanyakan kenapa pendakian masih dibuka saat status Gunung Marapi sudah waspada.

”Sebelum kejadian status gunung merapi sudah waspada, mengapa pendakian masih d buka ?” tulis @aidilmaijefri.

Sebagaimana dalam rilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Gunung Marapi sudah berada di Level II atau berstatus Waspada sejak 3 Agustus 2011.

PVMBG menjelaskan, kejadian erupsi pada Minggu (3/12/2023) pukul 14.54 WIB tersebut tidak didahului peningkatan gempa vulkanik yang signifikan.

Dalam catatan PVMBG, hanya terekam tiga kali gempa vulkanik dalam (VA) dalam kurun waktu 16 November – 2 Desember 2023.

”Peralatan deformasi (Tiltmeter) yang berada di stasiun puncak menunjukkan pola mendatar pada sumbu radial dan sedikit inflasi pada sumbu tangensial. Hal ini menunjukkan proses erupsi berlangsung cepat dan pusat tekanan hanya berada pada kedalaman dangkal (sekitar puncak),” tulis PVMBG dikutip Murianews.com, Senin (4/12/2023).

PVMBG pun memberikan rekomendasi agar masyarakat sekitar Gunung Marapi maupun wisatawan tidak melakukan aktivitas atau mendekati radius 3 Km dari kawah atau puncak.

”Masyarakat di sekitar G. Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan/mendekati Marapi pada radius 3 km dari kawah/puncak,” tulis PVMBG.

Terkait pendakian yang masih dibuka saat Gunung Marapi berstatus Waspada, Pelaksana Harian (Plh) Kepala BKSDA Sumbar Dian Indriati menjelaskan, pendakian Gunung Marapi dibuka setelah mendapat dukungan dari seluruh stakeholder.

”Pendakian kita buka baru pada Juli 2023 setelah mendapat dukungan dari Pemda Agam, Pemda Tanah Datar, dinas terkait yaitu dinas Pariwisata Provinsi Sumbar, BPBD Tanah Datar, Basarnas, Wali Nagari Batu palano, Aia Angek dan Koto Baru,” kata Dian dikutip dari Kompas.com, Senin (4/12/2023).

Ia menyebut, meski dibuka, ada prosedur pendakian dengan batasan-batasan tertentu yang harus dipatuhi.

”Misal melakukan pendakian pada siang hari, tidak boleh mendekati kawah, minimal dalam melakukan pendakian berjumlah 3 orang dan sebagainya,” jelas Dian.

Untuk tanggap darurat terdapat Posko Siaga Nagari, rambu-rambu di jalur pendakian, dan asuransi.

Menurutnya, itu juga berlaku di seluruh pendakian gunung berapi di Indonesia. ”Contoh Gunung Bromo, Kerinci, Rinjani, dan lainnya. Dibolehkan melakukan pendakian sepanjang memiliki mitigasi dan adaptasi bencana,” kata Dian.

Diketahui, erupsi Gunung Marapi membuat 11 pendaki tewas. Sementara, puluhan lainnya terpaksa dilarikan ke RSUD Padang Panjang. Selain itu, Tim SAR Gabungan juga menginformasikan masih ada 12 pendaki yang terjebak.

Komentar