Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Benar saja, dalam waktu dua jam saja Gus Yasin bersama warga dan TNI/Polri yang turun ke sungai bisa mengumpulkan sampah yang beratnya hampir satu ton.

Yakni tepanya 982 kilogram sampah dari Kali Senged. Rinciannya sebanyak 222 kilogram sampah organik dan 760 sampah anorganik.

"Hari ini kami bersama-sama membersihkan sampah. Ada dari warga, santri, LSM, Koramil, PSDA Jateng, DLHK Jateng, BPBD, bahkan dari KKN Undip . Semoga ini tidak berhenti hari ini saja tetapi bisa secara periodik, setiap hari dilakukan di sini," kata Gus Yasin.

Ia mengakui jika sungai ini belakangan jadi sorotan karena banyaknya sampah yang menumpuk dan menutup aliran air.

Padahal dulu menurut dia, Kali Senged sangat bersih dan sering digunakan oleh warga untuk beraktivitas.

"Dulu kami sering mandi di sini, setelah main bola sore hari terus mandi di sungai. Saya senang waktu itu orang tua kita langsung mengajarkan kita kebersihan," ujarnya.

Keadaan Kali Senged dalam beberapa tahun terakhir sudah mengalami perubahan. Sungai bersih yang dulu dilihat setiap hari dipenuhi sampah.

Parahnya lagi, hampir tiap tahun di daerah itu sering dilanda banjir akibat air sungai meluap hingga ke pemukiman warga.
Parahnya lagi, hampir tiap tahun di daerah itu sering dilanda banjir akibat air sungai meluap hingga ke pemukiman warga.Menurut Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin, perubahan wajah Kali Senged itu juga dampak negatif dari pemakaian kantong plastik. Artinya, ketika sampah menumpuk di rumah kemudian dibuang ke sungai.Gus Yasin juga masyarakat mulai menempatkan dan memilah sampah di rumah. Setelah itu akan ada bank sampah yang mengambil yang sudah dipilah tersebut."Saya berharap jika sampah bisa dikurangi, kalau normalisasi sudah dilaksanakan bisa menjadi wisata dan bisa menjadi sumber air bersih untuk masyarakat sekitar. Masyarakat harus mulai budaya menempatkan sampah pada tempatnya," tandasnya.Ahmad Kholid, warga sekitar menyebut, kawasan di sekitar Kali Senged, khususnya Desa Karangmangu, sudah beberapa kali dilanda banjir akibat luapan air sungai. Luapan terparah sungai yang melalui sekitar delapan desa di Kecamatan Sarang itu sampai selutut orang dewasa atau kurang lebih 40 sentimeter. Tidak hanya itu, terjangan banjir juga sempat membuat jalan dan jembatan rusak parah."Tepatnya kapan saya kurang ingat, tapi dulu jalan sama jembatan sampai ada yang roboh. Kalau air yang masuk perkampungan sampai selutut," jelasnya. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler