Lasem Si Tiongkok Kecil, Potret Kerukunan Antara Tionghoa dan Kaum Sarungan
Ali Muntoha
Senin, 27 Januari 2020 16:27:14
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Tak hanya itu, Lasem juga dianggap sebagai potret toleransi dan “Indonesia Mini” dari Jawa Tengah. Pasalnya, daerah ini penuh dengan keberagaman.
Di tempat ini, masyarakatnya memiliki kesadaran toleransi yang tinggi, hidup berdampingan di atas perbedaan ras, suku dan agama.
Dikutip dari website resmi Pemprov Jateng, Lasem dalam sejarahnya merupakan tempat awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa. Sehingga banyak perkampungan Tionghoa dengan bangunan rumah kuno yang unik, salah satunya di Jalan Karangturi. Sebagian lagi berada di Desa Soditan.
Ada tiga kelenteng berdiri megah di kecamatan ini. Yakni Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dan Kelenteng Karangturi Po An Bio.
Menariknya, masyarakat Tionghoa dapat hidup beriringan dengan keturunan Jawa, bahkan kalangan kaum sarungan atau santri.
[caption id="attachment_181272" align="alignnone" width="1280"]
Pondok pesantren di lingkungan warga keturunan Tionghoa yang ada di Lasem, Kabupaten Rembang. (Istimewa)[/caption]Terbukti, di Lasem juga terdapat puluhan pondok pesantren. Pondok-pondok ini bukan baru-baru ini saja berdiri. Melainkan, sudah puluhan bahkan ratusan tahun umurnya.
Beberapa ponpes ini bahkan bangunannya berarsitektur China. Seperti Ponpes Al hidayat Asy Syakiriyyah di Soditan dan Ponpes Kauman di Jalan Karangturi.
“Kalau toleransi di Lasem itu jempol,” ujar salah seorang keturunan Tionghoa, Oenardi alias Oen Liang.
Sejak lahir, kata pria berusia 60 tahun ini, tidak ada konflik antarsuku, agama dan ras di Lasem. Mereka hidup berdampingan dan saling menghargai.
“Kalau ada orang Tionghoa meninggal, ya orang muslim ikut takziyah. Begitu sebaliknya. Di sini aman, nyaman. Di sini ada kelenteng, berdekatan dengan pesantren. Semua membaur saling menghormati,” tuturnya.
Dalam perayaan Imlek, Oenardi menambahkan, kelenteng terbuka bagi siapapun untuk saling bertemu dan menikmati makanan yang disajikan.
“Wah, kalau pas Imlek banyak warga datang dari berbagai kalangan. Islam, Kristen dipersilakan menikmati hidangan seperti kue keranjang. Asalkan sopan karena kelenteng tempat ibadah,” ujarnya.
Salah seorang pengunjung di Kelenteng Cu An Kiong di Desa Dasun, Lasem. (MURIANEWS)[/caption]Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah, Gus Farih Fuadi menyampaikan bahwa sikap toleransi di Lasem sudah terjalin sejak lama.Ponpes yang diasuhnya itupun mulanya adalah bangunan tempat penginapan masyarakat Tionghoa. Bahkan pintu ruang tamu di pesantrennya pun masih terdapat tulisan beraksara China.“Pesantren ini didirikan abah saya sekitar tahun 1985 lalu. Dulunya ini bangunan untuk penginapan masyarakat Tionghoa. Dibeli Abah dan dijadikan pesantren. Dan pintu itu memang asli masih ada tulisan huruf China,” jelasnya.Selama ini, santrinya membaur dengan masyarakat keturunan Tionghoa. Banyak juga wisatawan datang ke pesantren ini untuk belajar bagaimana menjaga toleransi.“Alhamdulillah tidak pernah ada apa-apa. Semuanya saling melengkapi. Banyak yang datang ke sini menanyakan sejarah toleransi,” terang Gus Farih.Kenyamanan dan ketenangan hidup di tengah keberagaman juga dirasakan kaum Nasrani. Di antara bangunan kuno Tionghoa di Desa Soditan berdiri dua Gereja, yakni Gereja Bethel Indonesia dan Gereja Yesus Sejati.Pendeta Gereja Bethel Indonesia, Yonatan Kukuh mengaku dapat hidup aman dan nyaman di lingkungan beragam di Lasem.“Toleransi di sini terbangun sudah sejak lama. Masyarakat dari berbagai suku, agama ini hidup berdampingan dan saling menghormati,” kata dia.Kehidupan toleransi di Lasem, menurutnya perlu dilestarikan. Ia menyebut, toleransi di tempat ini bukan hanya sekadar wacana, tapi sudah melebur menjadi jatidiri warganya. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



