Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jogja – Suasana haru menyelimuti rumah duka RS Bethesda Arimetea, Yogyakarta, pada Kamis (26/2/2026).

Silih berganti, mulai dari tokoh nasional, akademisi hingga aktivis lintas generasi hadir memberikan penghormatan terakhir bagi Johnsony Marhasak Lumban Tobing atau John Tobing. Pencipta lagu legendaris Darah Juang tersebut wafat pada Rabu (25/2/2026) akibat komplikasi stroke.

Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, hadir mengenakan kemeja putih dan tampak berbincang akrab dengan keluarga mendiang. Ganjar mengenang John sebagai kakak kelas sekaligus mentor dalam gerakan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM).

”Dia setahun di atas saya di UGM. Saya banyak belajar dari dia. Hal yang paling membekas adalah keberaniannya membela kebenaran tanpa rasa takut, meski saat itu situasinya sangat represif karena melawan Orde Baru,”ujar Ganjar sebagaimana dilansir dari Harian Jogja.

Ia pun berpesan agar semangat perjuangan dengan nurani yang diwariskan John terus dijaga oleh generasi muda.

Selain Ganjar, ada akademisi Untoro Hariadi yang juga ikut hadir menceritakan John Tobing adalah salah satu penggerak demonstrasi pertama setelah kebijakan pengekangan kampus (NKK/BKK) pada Oktober 1988.

John dikenal sebagai sosok eksentrik namun humanis yang konsisten mengadvokasi rakyat kecil, mulai dari kasus Kedung Ombo hingga aksi-aksi pra-reformasi.

”John lulus tahun 93, tapi gerakannya dilanjutkan oleh generasi berikutnya, seperti nama Anies (Baswedan) hingga Budiman (Sudjatmiko),” kenang Untoro.

 

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler