Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Banyak warga lain yang berada di kuburan tersebut. Namun, kakek berusia 102 tahun ini tak mau dibantu oleh siapa pun. Setiap hari, dia datang ke makam untuk meneruskan galiannya tersebut.

Rupanya, liang lahat itu memang sengaja disiapkan untuk dirinya sendiri. Sekalipun Sumadi tidak mengetahui kapan malaikat maut akan menjemputnya. Namun, itu semua dilakulan agar tidak terlalu merepotkan orang lain saat meninggal.

"Ketimbang nganggur. Ya nggak tahu kapan meninggalnya, tapi menyiapkan buat saya sendiri, biar tidak merepotkan yang muda-muda," kata Sumadi, dikutip dari R2B Rembang, Kamis (22/10/2020).

Terhitung sudah sepekan ini Sumadi menggali kuburnya sendiri. Dia pun tidak tahu kapan penggalian itu akan selesai. Yang penting baginya, liang lahat selesai dibuat saat Tuhan memanggilnya.

"Saya tidak pakai jam-jaman, pokoknya kalau capek, ya pulang," ungkapnya.

Selain menggali kubur, Sumadi juga sudah menyediakan kain kafan dan nisan. Warga yang mengetahui aksi Sumadi pun kaget dan penasaran.

Tak sedikit warga yang membujuk agar penggalian liang kubur itu dihentikan. Namun, tekat kuat kakek yang berdomisili di RT 01 RW 06 itu tak menciutkan niatnya.

Bahkan sejumlah petugas kepolisian diketahui juga sudah menasehati Sumadi. Namun, semua itu tidak mempan. Kakek ini tetap mengayunkan cangkulnya untuk menggali kubur.

Nurul Chasanah, cucu Sumadi mengakui hal itu. Keluaganya pun sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang kakek.“Mbah Sumadi itu kan masih sehat, keluhan penyakit juga enggak ada, tapi pendengarannya sudah berkurang. Ia pernah bilang pengin meninggal cepet, kita bilangi jangan gali kubur, ya masih ngeyel, yo ben (ya sudah). Tiap pagi tetep pergi ke makam, melanjutkan penggalian," ungkapnya.Sementara Kepala Desa Ngemplak Mustaqim mengakui baru kali ini ada warga yang menggali kuburnya sendiri. Dia juga memastikan kalau Sumadi itu sehat, sama sekali tidak mempunyai riwayat gangguan kejiwaan.Pada prinsipnya, lanjut Mustaqim, Sumadi memberikan contoh kepada warga sekitar. Saat usia yang sudah senja, dirinya tidak mau merepotkan orang lain, bahkan ketika nantinya meninggal“Memberi contoh bahwa kematian pasti datang. Gali makam di sini umumnya kan beregu, tapi kalau Mbah Sumadi gali sendiri, prinsipnya baik, ya kita hargai saja. Jangan kita berprasangka yang buruk," terang Mustaqim.Setiap usai memggali kubur, Sumadi selalu menutup liangnya dengan papan. Dengan harapan agar ketika turun hujan, air tidak masuk dalam liang lahat. Penulis: Cholis AnwarEditor: Ali MuntohaSumber: Radio R2B Rembang

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler