Bahkan Masjid Jami Al-Majid yang berdiri di atas tanah wakaf ini justru lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kabah.
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Al-Majid Dahlan mengatakan dulunya masjid tersebut hanya berupa surau atau tajuk yang difungsikan untuk mengaji anak-anak atau masyarakat sekitar.
”Jadi masjid ini enggak langsung bentuknya seperti ini, dulunya tajuk saja, berdiri di atas tanah wakaf milik keluarga Haji Mulya,” katanya mengutip
Kompas.com, Selasa (4/4/2023).
Baca: Ramai Haji Virtual Melalui Kabah Metaverse, Anda Setuju?Lantaran jumlah jamaah yang berkegiatan di tajuk atau surau itu terus bertambah, akhirnya salah seorang dermawan di lingkungan tersebut membangun surau itu menjadi sebuah masjid, tapi belum menyerupai Kabah seperti saat ini.
Kemudian pada 2018, masjid tersebut direnovasi menyerupai Kabah. Ia menjelaskan, ide dan gagasan untuk merenovasi masjid Jami Al-Majid menjadi bentuk Kabah datang dari anaknya.
Saat itu, kata dia, terlintas keinginan bagaimana agar Masjid Jami Al-Majid semakin bertambah jemaahnya serta kemakmuran masjidnya terjaga.Selain itu, penambahan kapasitas pun menjadi prioritas yang dipikirkan saat akan merenovasi Masjid Jami Al-Majid menjadi bentuk Kabah.”Karena kita enggak punya lokasi lagi, supaya menampung jemaah banyak,” ujarnya.
Baca: Biaya Haji Diusulkan Rp 69 Juta, Kemenag Kudus Sebut Sudah ProposionalMeski ornamen di luar tembok luar masjid dibuat menyerupai kain Kiswah, tapi Dahlan menyebut ornamen yang ada di dalam masjid murni hasil pemikiran dan keinginan jemaah.”Kalau sebelumnya, kaligrafinya dari Jepara, tapi sekarang ornamennya semua dibuat langsung di sini, itu mah hasil ide-ide yang didapatkan saja,” jelasnya.
Murianews, Bandung – Masjid Jami Al-Majid yang berdiri kokoh di pinggir jalan Kampung Cikawung, Desa Warga Mekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar) ramai diperbincangkan warganet. Sebab, masjid tersebut mempunyai bentuk bangunan menyerupai kabah.
Bahkan Masjid Jami Al-Majid yang berdiri di atas tanah wakaf ini justru lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kabah.
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Al-Majid Dahlan mengatakan dulunya masjid tersebut hanya berupa surau atau tajuk yang difungsikan untuk mengaji anak-anak atau masyarakat sekitar.
”Jadi masjid ini enggak langsung bentuknya seperti ini, dulunya tajuk saja, berdiri di atas tanah wakaf milik keluarga Haji Mulya,” katanya mengutip
Kompas.com, Selasa (4/4/2023).
Baca: Ramai Haji Virtual Melalui Kabah Metaverse, Anda Setuju?
Lantaran jumlah jamaah yang berkegiatan di tajuk atau surau itu terus bertambah, akhirnya salah seorang dermawan di lingkungan tersebut membangun surau itu menjadi sebuah masjid, tapi belum menyerupai Kabah seperti saat ini.
Kemudian pada 2018, masjid tersebut direnovasi menyerupai Kabah. Ia menjelaskan, ide dan gagasan untuk merenovasi masjid Jami Al-Majid menjadi bentuk Kabah datang dari anaknya.
Saat itu, kata dia, terlintas keinginan bagaimana agar Masjid Jami Al-Majid semakin bertambah jemaahnya serta kemakmuran masjidnya terjaga.
Selain itu, penambahan kapasitas pun menjadi prioritas yang dipikirkan saat akan merenovasi Masjid Jami Al-Majid menjadi bentuk Kabah.
”Karena kita enggak punya lokasi lagi, supaya menampung jemaah banyak,” ujarnya.
Baca: Biaya Haji Diusulkan Rp 69 Juta, Kemenag Kudus Sebut Sudah Proposional
Meski ornamen di luar tembok luar masjid dibuat menyerupai kain Kiswah, tapi Dahlan menyebut ornamen yang ada di dalam masjid murni hasil pemikiran dan keinginan jemaah.
”Kalau sebelumnya, kaligrafinya dari Jepara, tapi sekarang ornamennya semua dibuat langsung di sini, itu mah hasil ide-ide yang didapatkan saja,” jelasnya.