Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Data Analyst Continuum Indef, Wahyu Tri Utomo mengatakan, analisis ini dilakukan dengan pendekatan big data melalui media sosial Twitter. Dalam hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa 80,77 persen masyarakat yang aktif di internet tidak setuju dengan kebijakan subsidi kendaraan listrik dan mereka mengkritik kebijakan tersebut.

”Melihat lebih detail, kita coba akumulasi ada 58,6 persen atau hampir 60 persen itu kritik masyarakat itu didasarkan pada penilaian bahwa subsidi kendaraan listrik hanya menguntungkan segelintir pihak,” ujar dia mengutip Tempo.co, Senin (22/5/2023).

Baca: Ini Rekomendasi Situs Jual Beli Mobil untuk Mencari Kendaraan Idaman

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan dari kritik tersebut, hampir 60 persen kritik berasal dari penilaian bahwa subsidi kendaraan listrik hanya menguntungkan segelintir pihak.

Masyarakat merasa bahwa subsidi tersebut hanya menguntungkan pembeli kendaraan listrik yang tidak membutuhkan subsidi atau orang-orang yang memiliki kekuasaan dan menjadi pengusaha. Masyarakat juga berpendapat bahwa subsidi seharusnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup banyak orang.

”Masyarakat mempertanyakan kalau minat pasarnya tinggi kenapa masih disubsidi. Untuk apa subsidi itu? Kemana? Untuk siapa subsidinya? Ini pertanyaan yang sering digaungkan warganet,” tutur Wahyu.

Selain itu, kritik lain yang diajukan masyarakat terkait subsidi kendaraan listrik adalah terkait penggunaan baterai mobil listrik yang masih menggunakan energi fosil atau batu bara, sehingga dianggap tidak mengurangi polusi.Ada juga pendapat bahwa meskipun tanpa subsidi, minat pembeli terhadap mobil listrik sudah tinggi, sehingga masyarakat mempertanyakan alasan di balik pemberian subsidi tersebut.Namun, terdapat pandangan positif dalam perbincangan mengenai subsidi kendaraan listrik. Beberapa masyarakat melihat mobil listrik sebagai solusi yang dapat mengurangi emisi karena tidak menghasilkan emisi berbahaya, seperti kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.Terkait hasil analisis ini, Wahyu menjelaskan bahwa data yang digunakan berasal dari 18.921 pembicaraan di Twitter yang melibatkan 15.139 akun dalam rentang waktu 8-12 Mei 2023. Twitter dipilih sebagai platform penelitian karena dianggap representatif dalam menangkap aspirasi, kritik, dan masukan masyarakat terkait isu sosial, politik, dan kebijakan pemerintah.Baca: Kendaraan Listrik Dikritik Anies, Luhut Beri Jawaban MenohokData yang diambil kemudian disaring untuk menghilangkan akun media atau buzzer, sehingga analisis dapat dilakukan terhadap perbincangan yang melibatkan pengguna asli, termasuk analisis terhadap exposure, sentimen, dan topik pembicaraan.”Setelah kita ambil datanya, kita collect datanya kita coba bersihkan dari akun media atau  dari buzzer. Sehingga harapannya perbincangan didapatkan dari user asli saja setelah itu kita lakukan analisis untuk exposure, sentimen, dan juga topik perbincangan,” tutur Wahyu.

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler