AHY Sebut Rob dan Penurunan Tanah di Pantura Ancaman Eksistensial
Cholis Anwar
Selasa, 17 Juni 2025 13:02:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti serius permasalahan banjir rob dan penurunan tanah (land subsidence) di kawasan pesisir utara Jawa.
AHY menegaskan, isu ini telah menjadi ancaman eksistensial yang tidak bisa lagi ditunda penanganannya.
”Ini bukan isu biasa, ini existential threat (ancaman eksistensial) bagi masyarakat pesisir, khususnya di Pantura. Di beberapa titik, penurunan tanah bisa mencapai 12 sentimeter (cm) per tahun. Ini serius dan harus segera dicarikan solusinya,” tegas AHY dikutip dari Antara, Selasa (17/6/2025).
AHY menekankan, solusi untuk mengatasi rob dan penurunan tanah tidak dapat disamaratakan. Ia mendorong pendekatan berbasis lokasi dan kondisi fisik wilayah masing-masing.
”Tidak ada one size fits all (satu ukuran cocok untuk semua). Di beberapa lokasi mungkin kita perlu membangun tanggul besar dan tinggi, tapi ada juga wilayah yang bisa diperkuat secara alami dengan menanam mangrove. Bahkan di beberapa tempat, kita harus realistis untuk mundur, relokasi masyarakat,” paparnya.
Lebih lanjut, AHY menegaskan solusi tidak boleh hanya bergantung pada konstruksi fisik semata. Ia mendorong penerapan ”nature-based solutions” atau pendekatan berbasis alam untuk mengurangi risiko bencana secara lebih berkelanjutan.
”Kita jangan selalu mengandalkan beton. Solusi hybrid dengan pendekatan alami juga penting, dan itu bisa lebih ramah lingkungan serta berkelanjutan,” kata AHY.
Menurut AHY, masalah rob dan penurunan tanah ini tidak lepas dari persoalan tata ruang yang kerap dilanggar. Oleh karena itu, ia meminta kepala daerah untuk bertindak tegas terhadap pelanggaran yang mengganggu daya serap air tanah.
Suplai air...
- 1
- 2



