Harga Sawit Ambruk Usai Pemerintah Umumkan BUMN Khusus Ekspor
Cholis Anwar
Sabtu, 23 Mei 2026 13:51:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani dilaporkan ambruk secara drastis setelah pemerintah mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) atau BUMN khusus ekspor.
BUMN baru tersebut dirancang untuk menjadi eksportir tunggal komoditas sumber daya alam (SDA) strategis guna mengikis praktik under invoicing.
Ketua Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Mansuetus Darto mengatakan, statmen sepihak pemerintah terkait wacana PT DSI langsung membuat para pengusaha, trader, industri refinery, hingga eksportir luar negeri kompak menahan diri.
”Ketidakpastian ini memicu kepanikan pasar, spekulasi, dan penurunan aktivitas perdagangan yang akhirnya langsung menekan harga CPO dan harga TBS petani,” kata Mansuetus Darto dikutip dari Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).
Darto mengatakan, saat ini banyak pelaku usaha sawit memilih berhenti bekerja sementara waktu. Imbasnya, rantai pasokan macet total lantaran pabrik menolak mengambil buah sawit petani di kebun hingga menyebabkan komoditas tersebut membusuk tanpa nilai jual.
Berdasarkan catatan statistik POPSI, harga tender CPO nasional merosot tajam dari yang semula berada di level Rp 15.300 per kilogram menjadi Rp 12.150 per kilogram hanya dalam hitungan hari.
”Dampaknya langsung dirasakan petani di berbagai daerah,” tambah Darto.
Penurunan indeks CPO global ini memicu kejatuhan harga TBS petani swadaya secara simultan di berbagai wilayah sentral kelapa sawit.
Harga daerah...
Di Sumatera Selatan turun paling tajam dari Rp 3.577 menjadi Rp 2.722 per kilogram. Sumatera Utara turun dari Rp 3.299 menjadi Rp 2.899 per kilogram. Jambi turun dari Rp 3.266 menjadi Rp 2.944 per kilogram. Kalimantan Tengah turun dari Rp 3.483 menjadi Rp 3.163 per kilogram.
Ketidakpastian regulasi operasional PT DSI memaksa perusahaan pengolahan cenderung bermain aman dengan hanya memprioritaskan pemanenan dari kebun milik korporasi sendiri demi memperkecil risiko bisnis.
”Akhirnya kembali menekan harga TBS petani bahkan petani tidak bisa panen kalau pabrik-pabrik itu tutup untuk mencegah kerugian mereka,” ujar Darto.



