Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Dinarpus Kabupaten Rembang dan Yayasan Lasem Heritage saat persentasi tentang arsip museum Nyah Lasem di ANRI beberapa waktu yang lalu

Murianews, Rembang – Dinas Arsip dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Rembang dan Yayasan Lasem Heritage mengusulkan arsip Museum Nyah Lasem untuk menjadi Memori Kolektif Bangsa (MKB). Usulan ini telah melalui berbagai upaya, termasuk presentasi di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada tanggal 22 dan 23 Februari 2024.

“Arsip-arsip ini kaya akan sejarah ekonomi, sosial, dan seni kreatif batik Lasem sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, serta Batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi, sehingga sangat penting,” ujar Kepala Dinarpus Kabupaten Rembang Achmad Sholchan, dilansir dari laman Pemkab Rembang, Kamis (29/2/2024).

Arsip-arsip yang disimpan di Museum Nyah Lasem mengandung sejarah bangsa yang berkaitan dengan jaringan dagang batik Lasem, yang mencakup Sumatra, wilayah Indonesia bagian timur dan luar negeri seperti Singapura. Salah satu arsip bahkan menunjukkan peran perempuan Lasem, terutama pemilik usaha batik Lasem, dalam mendirikan dapur umum untuk Tentara Republik Indonesia.

Sholchan menjelaskan, arsip perusahaan Batik Lasem Tio Oen Bien-Tio Swan Sien dari tahun 1900 hingga 1930 berjumlah 104 arsip, berupa surat, kartu pos, kuitansi, dan foto. Arsip ini mencakup informasi tentang jaringan dagang dan pembelian alat batik dari luar daerah, seperti lilin atau malam dari Atapupu Timor, dan kain dari Surabaya dan Solo.

Selain itu, arsip warga perusahaan batik Lasem Liem Kioe An periode 1922 hingga 1940 berjumlah 73 tekstual, berupa surat, telegram, dan foto. Arsip ini berisi informasi tentang jaringan dagang batik dari Sumatra hingga Sulawesi.

”Tujuan diajukannya arsip tentang bukti kisah sejarah batik Lasem menjadi MKB agar semakin populer lagi di tingkat nasional,. Batik Lasem ini memang sudah terkenal, namun secara arsipnya ini belum terungkap. Ternyata setelah kami telusuri, batik Lasem itu sudah ada sejak awal abad ke-19,” tambahnya.

Setelah presentasi, tim dari ANRI akan melakukan visitasi ke Lasem pada bulan Maret mendatang. Mereka akan melihat secara langsung keberadaan arsip-arsip tersebut yang kini tersimpan di Museum Nyah Lasem.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler