Harga Anjlok, ASN dan Sekolah di Rembang Bantu Serap Hasil Panen Tomat
Dani Agus
Selasa, 14 Oktober 2025 12:43:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Lebih lanjut, pihaknya mengimbau petani agar tidak hanya fokus pada tren harga pasar sesaat. Menurutnya, kecenderungan petani yang menanam komoditas secara serempak ketika harga naik justru menyebabkan kelebihan pasokan dan harga kembali turun drastis.
“Kami terus wanti-wanti kepada penyuluh pertanian agar mengedukasi petani tidak hanya dalam hal teknis budi daya, tetapi juga dari sisi pemasaran. Karena situasi seperti ini bisa terus berulang, terutama untuk komoditas sayuran,” tegasnya, dilansir dari laman Pemkab Rembang.
Sebagai solusi jangka panjang, Agus Iwan juga menekankan pentingnya inovasi pascapanen. Salah satunya seperti yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Sluke yang mengolah tomat menjadi produk Tomat Rasa Kurma (Torakur).
Produk olahan ini, menurutnya, memiliki nilai jual delapan hingga sepuluh kali lipat dari harga tomat mentah serta memiliki daya simpan lebih lama.



