Termasuk dalam aspek dukungan pembiayaan, pengembangan institusi, serta akses terhadap program pemerintah.
”DPR akan mengawal Undang-Undang Pendidikan Nasional agar perguruan tinggi swasta disetarakan dengan negeri,’” kata Mufidayati, dalam seminar bertema ”Pendidikan Leadership di Era Digitalisasi di Lingkungan Perguruan Tinggi”.
Kemudian, Dekan Fakultas Manajemen dan Kepemimpinan TAU Awang Darmawan Putra, serta Kepala Biro Kemahasiswaan TAU Akhmad Hairul Umam sebagai moderator.
Kegiatan ini membahas transformasi digital, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta tantangan pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).
Murianews, Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati menyampaikan, perguruan tinggi swasta harus memiliki kesetaraan dengan kampus negeri untuk mendukung kemajuan pendidikan nasional.
Termasuk dalam aspek dukungan pembiayaan, pengembangan institusi, serta akses terhadap program pemerintah.
Hal ini diungkapkan oleh Kurniasih Mufidayati, saat menjadi keynote speech di kampus Tanri Abeng University (TAU), Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, perguruan tinggi swasta memiliki kontribusi besar dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul. Sehingga perlu mendapatkan perhatian yang setara dalam kebijakan pendidikan nasional.
”DPR akan mengawal Undang-Undang Pendidikan Nasional agar perguruan tinggi swasta disetarakan dengan negeri,’” kata Mufidayati, dalam seminar bertema ”Pendidikan Leadership di Era Digitalisasi di Lingkungan Perguruan Tinggi”.
Selain dihadiri Mufidayati sebagai keynote speech, acara ini juga menghadikan empat pembicara lain. Yakni, Plt Rektor Tanri Abeng University Suyanto, Peneliti Pendidikan di Digdaya Indonesia Nazmul Watan, Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi TAU Firmansyah Bachtiar.
Kemudian, Dekan Fakultas Manajemen dan Kepemimpinan TAU Awang Darmawan Putra, serta Kepala Biro Kemahasiswaan TAU Akhmad Hairul Umam sebagai moderator.
Kegiatan ini membahas transformasi digital, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta tantangan pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).
Transformasi Pendidikan Tinggi...
Melalui kegiatan ini, Tanri Abeng University menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi berbasis digital, penguatan karakter, serta pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga riset dalam menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Wakil ketua komisi X DPR RI menyampaikan, mahasiswa harus memiliki visi, cita-cita, kepemimpinan, dan inovasi agar proses pendidikan tidak hanya menjadi rutinitas akademik semata.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan pemimpin bangsa dan sumber daya manusia unggul yang akan menentukan masa depan Indonesia.
Ia menegaskan bahwa Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada tahun 2045 sehingga pembangunan SDM menjadi prioritas utama yang harus dipersiapkan melalui pendidikan tinggi yang berkualitas.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi atas kolaborasi akademik yang dilakukan oleh Tanri Abeng University dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kesetaraan perhatian antara perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi negeri (PTN).
Ia juga menjelaskan, pihak legislatif saat ini tengah mendorong revisi regulasi pendidikan yang mencakup undang-undang guru dan dosen serta pendidikan tinggi.
Menurutnya, guru dan dosen merupakan profesi strategis yang melahirkan para pemimpin bangsa, menteri, akademisi, dan berbagai profesi lainnya di Indonesia sehingga peningkatan kompetensi dan kesejahteraan tenaga pendidik harus menjadi perhatian bersama.
Digitalisasi di Perguruan Tinggi...
Selain itu, ia turut menekankan pentingnya perluasan akses beasiswa dan bantuan pendidikan bagi mahasiswa agar angka putus kuliah akibat keterbatasan ekonomi dapat ditekan.
Dalam pemaparannya, ia juga menegaskan bahwa digitalisasi di lingkungan perguruan tinggi merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh institusi pendidikan.
Mahasiswa dituntut untuk mampu menguasai teknologi digital, meningkatkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking skill), serta siap bersaing dengan mahasiswa maupun tenaga kerja dari negara lain.
Meski demikian, perkembangan teknologi menurutnya harus tetap diimbangi dengan pendidikan karakter, integritas, etika, serta nilai keimanan agar pemanfaatan teknologi tidak disalahgunakan.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Nazmul Wattab dari Digdaya Indonesia yang membahas kepemimpinan digital di lingkungan pendidikan tinggi.
Dalam presentasinya, Nazmul menjelaskan, perubahan global dan perkembangan teknologi pascapandemi telah mengubah sistem pendidikan, pola komunikasi, hingga tata kelola organisasi.
Menurutnya, digitalisasi dan AI kini menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan dan dunia kerja sehingga perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tersebut.
Oleh sebab itu, pemimpin perguruan tinggi dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi terhadap teknologi digital dan mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas serta efektivitas pengelolaan institusi pendidikan.
Ia menilai, AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas pembelajaran, bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan tanpa proses analisis dan evaluasi akademik.