Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, saat ini masih ada sekitar lima ribu anak yang berstatus stunting. Angka itu turun dari 7.227 anak stunting.
Kepala Dinkes Jepara, Mudrikatun menilai, munculnya kasus stunting berakar dari pola asuh orang tua kepada anaknya. Dia melihat fenomena banyaknya ibu di Jepara yang bekerja sewaktu anaknya masih kecil dan butuh asuhan khusus. Sang bayi dititipkan kepada orang lain.
“Kenapa terjadi stunting? Berarti kaitannya dengan asih, asuh, asah. Biasanya kalau ibunya bekerja anak dititipkan simbahnya atau lainnya. Kalau tidak mau makan ya sudah (dibiarkan saja, red),” kata Mudrikatun, Rabu (24/5/2023).
Untuk itu, melalui program Sinergisitas Gerakan Menekan Kematian Ibu dan Bayi (SING GEMATI), Mudrikatun akan menggerakkan seluruh elemen pendamping kesehatan dan masyarakat untuk mendampingi anak-anak stunting.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



