Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kepala Kantor SAR Semarang, Heru Suhartanto menerangkan, pada Rabu (14/6/2023) pihaknya menerima laporan dari Kapal TB Trinity terkait terbaliknya kapal itu lengkap dengan titik kordinatnya. Setelah didatangi ke lokasi, ternyata sudah tidak ada kapal ataupun jejak-jekanya.

Kemudian, Heru berupaya berkomunikasi dengan beberapa kapal di sekitar kordinat tersebut. Salah satu kapal memberi informasi bahwa kapal sudah bergeser 40 mil laut dari lokasi awal terbalik.

Baca juga: Kapal Terbalik di Perairan Karimunjawa Teridentifikasi, Lima ABK Hilang

”Akhirnya kita kejar ke sana. Ternyata juga kapalnya sudah tidak ada di lokasi. Kalau analisa kami tidak mungkin, terlalu jauh kalau 40 mil laut,” kata Heru, Sabtu (17/6/2023).

Berdasarkan analisa Heru, kapal tersebut sudah terbalik pada Senin (12/6/2023) lalu. Sedangkan informasi dari nahkoda, kapal itu dihantam gelombang dua kali. Hantaman pertama membuat kapal miring. Belum sempat memposisikan kapal, hantaman kedua langsung membuat kapal terbalik.

”Kami menduga kemungkinan besar kapal tenggelam di titik awal (30 mil dari Pulau Parang dekat Pulau Kembar, red). Kapal itu berat mengangkut alat berat, kapalnya juga besar. Dimungkinkan andai kata kapal terbalik dan tenggelam, pasti tidak jauh dari titik awal yang dilihat TB Trinity,” ungkap Heru.Tim yang sudah mendatangi lokasi pun tidak menemukan jejak-jejak kapal tersebut. Justru, pada jarak 40 mil dari titik awal, tim menemukan liferaft, ban-ban dan bongkahan-bongkahan kapal.Heru mengaku tidak memungkinkan tim untuk melakukan penyelaman. Alasannya, ketinggian ombak mencapai 2,5 meter dengan kecepatan angin 25-30 knots.”Kapal kita saja goyang. Kita tidak berani ambil tindakan (penyelaman, red). Nanti kita evaluasi kembali akan bagaimana. Tapi kami fokuskan pencarian lima ABK yang hilang,” pungkas Heru. Editor: Dani Agus

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler