Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Salah satu petani kopi dari Desa Tempur, Kecamatan Keling, Ahmad Junaidi menyebutkan, kenaikan harga tak wajar tersebut sudah berlangsung selama 1,5 bulan terakhir. Harga biji kopi sempat menyentuh harga tertinggi di angka Rp 45-47 ribu per kilogram.

”Padahal, biasanya harga tertinggi di kisaran Rp 30-32 ribu per kilogram,” kata Junaidi kepada Murianews.com, Jumat (7/7/2023).

Baca juga: Petani Kopi Jepara Diberi Bibit Robusta untuk 200 Hektare Lahan

Junaidi mengungkapkan, karena harga yang naik tajam, para petani bahkan berani menjul kopi yang masih dalam bentuk gelondong yang baru dipetik dari kebun. Harganya pun melesat. Jika sebelumnya per kilogram hanya di angka Rp 6-7 ribu, kini bisa tembus Rp 11-12 ribu per kilogram.

Junaidi meyakini, tren kenaikan harga kopi tersebut tak akan berlangsung lama. Buktinya, setidaknya dalam sepekan terakhir harganya sudah turun di angka Rp 40 ribu per kilogram biji kopi kering.
Junaidi menilai, kenaikan harga tersebut diakibatkan persediaan kopi impor di pasar lokal tidak mencukupi kebutuhan pasar. Akhirnya, kopi lokal dipaksa untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meningkat tersebut.Dia menyebutkan, kopi Jepara, baik yang berasal dari Desa Tempur maupun daerah lain dikirim ke berbagai kota. Bahkan, tengkulak asal Desa Tempur terpaksa membeli kopi dari luar desa untuk memenuhi pesanan.”Dikirim ke berbagai kota. Ada yang ke Semarang. Paling banyak dikirim ke pabrik di Kabupaten Pati,” kata Junaidi. Editor: Dani Agus

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler