Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara - Para petani Jepara di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) merugi hingga puluhan miliar rupiah. Pasalnya, ribuan hektar sawah mereka yang ditanami padi dipastikan puso akibat terendam banjir.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Jepara (DKPP Jepara), tercatat sawah seluas 3.921 hektar di Jepara terendam banjir sejak awal Januari lalu. Sebanyak 2.807 hektar di antaranya dipastikan puso. Sedangkan 1.054 hektar lainnya masih bisa diselamatkan.

Sebenarnya, masih ada 70 hektar sawah yang masuk kategori puso. Namun karena sawah itu berada di lambiran sungai dan bukan berstatus hak milik, maka tak bisa dimasukkan data pemerintah.
"Lahan puso hampir merata di seluruh kecamatan," sebut Kepala DKPP Jepara, Mudhofir, Rabu (4/2/2026).

Dia memaparkan, wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah mengalami lahan puso berada di Kecamatan Kalinyamatan dengan luas mencapai 742 hektar. Disusul Welahan 653 hektar, Pecangaan 350 hektar, Kedung 286 hektar, Keling 234 hektar, dan Mayong 147 hektar.

Sementara kecamatan lain yang turut terdampak banjir dan mengalami puso antara lain Donorojo 115 hektar, Bangsri 85 hektar, Mlonggo 65 hektar, Tahunan 39,5 hektar, Jepara 33 hektar, Kembang 30 hektar, Nalumsari 27 hektar, serta Batealit 1 hektar.

Berdasarkan data tersebut, Mudhofir menyebut total kerugian petani Jepara karena sawahnya mengalami puso mencapai Rp 25,2 miliar. Nahasnya, seluruhnya tak terkover asuransi pertanian.

Mudhofir belum bisa memastikan persoalan ganti rugi padi puso untuk mereka. Pihaknya hanya mengajukan usulan bantuan kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Pemprov Jateng sesuai data tersebut.

"Penganggaran bukan di kami. DKPP hanya mengajukan bantuan berupa benih dan pupuk. Jika merujuk pengalaman sebelumnya, biasanya bantuan hanya diberi berupa benih," kata Mudhofir.

Sampai saat ini, pihaknya pun masih menunggu kabar dari pemprov maupun Kementan. Belum bisa dipastikan kapan bantuan puso itu akan terealisasi.

"Kami masih menunggu. Baik bentuk bantuan maupun kapan realisasinya," tandas Mudhofir.

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler