HPN 2026, PWI Jepara Ajak Pelajar Kenali Dunia Jurnalistik
Faqih Mansur Hidayat
Kamis, 5 Februari 2026 17:37:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah berbagi ilmu di dunia jurnalistik pada para pelajar SMA/SMK setempat.
Pelatihan di Gedung Shima Kompleks Setda Jepara, Kamis (5/2/2026) itu diselenggarakan dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Para siswa belajar langsung dengan wartawan-wartawan professional dalam agenda itu. Mereka dikenalkan pada dunia jurnalistik tingkat dasar. Bahkan, mereka juga diajak mempraktikkan langsung cara mencari dan menulis berita.
Ketua PWI Jepara, Septina Nafiyanti menyampaikan, kerja-kerja jurnalistik dimulai dari perumusan ide, peliputan, penulisan, editing, hingga berita siap ditayangkan.
Memang dibutuhkan proses cukup panjang dan ketat untuk memperoleh dan menyajikan setiap informasi yang valid kepada masyarakat.
”Fungsi jurnalistik tidak hanya memberikan informasi, tapi juga edukasi kepada masyarakat dan fungsi memberikan hiburan kepada masyarakat. Yang paling penting adalah pengawasan dan kontrol sosial terhadap kebijakan karya-karya jurnalistik,” kata Septi.
Dalam pelatihan ini, beberapa peserta juga antusias menanyakan berbagai hal. Salah satunya terkait kecerdasan buatan atau artificial intelegent (AI), yang terus berkembang pesat. Begitu juga di dunia kepenulisan.
Sulit Dibedakan...
Para pelajar itu seringkali menjumpai berita atau informasi yang sulit dibedakan antara karya jurnalistik buatan manusia atau AI. Informasi-informasi yang mereka dapatkan juga sering memuat kabar-kabar bohong atau hoaks.
”Di dunia jurnalistik ada istilah cek fakta. Kita bisa memverifikasi apakah informasi itu benar atau tidak. Tugas jurnalis memberikan fakta. Itu lah bedanya jurnalis yang harus verifikasi maupun observasi. Tidak menulis yang tidak jelas sumbernya,” jelas Septi.
Soal AI, Septi menyebut memang Dewan Pers sudah memperbolehkan penggunaan AI di kalangan jurnalis. Namun baginya, karya jurnalistik buatan manusia tetap tak bisa ditandingi hanya dengan AI.
”Dari segi tulisannya, tata bahasa dan faktor-faktor lainnya, AI tak bisa disamakan dengan karya jurnalistik asli. Begitu juga sebaliknya,” tegas Septi.
Antusias...
Salah satu peserta asal SMAN 1 Tahunan, Ikmal, menilai pelatihan jurnalistik kali ini menjadi wadah pembelajaran terutama bagi kalangan anak muda.
”Acaranya cukup seru tidak hanya materi tapi ada praktik. Jadi banyak belajar. Kami jadi tahu lebih banyak tentang dunia jurnalis,” ungkap Ikmal.
Selepas pelatihan, mereka langsung diajak praktik meliput di Museum RA Kartini di Pendapa Kabupaten Jepara. Setelah itu, para pelajar itu juga langsung diajari menulis berita.
Editor: Zulkifli Fahmi



