Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara - Produksi sampah di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) terus meningkat. Saat ini, estimasi timbulan produksinya tembus 479 ton per hari. 

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara (DLH Jepara), Eko Yudy Novianto menyebut, dari produksi harian 479 ton itu, sebanyak 152 ton di antaranya ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) di Bandengan, Kecamatan Jepara.

"Sampah yang masuk ke TPA ini masih sebagian kecil. Yang lainnya dikelola kelompok masyarakat atau individu," kata Yudy, Senin (2/3/2026).

Yudy memaparkan, produksi sampah harian itu dihitung dari 1,29 juta penduduk Kota Ukir dikalikan produksi rata-rata 0,37 kilogram per hari. Pihakya mengatakan, tingkat produksi sampah di masing-masing wilayah atau kecamatan berbeda.

Produksi sampah bergantung pada jumlah penduduk dan tingkat aktivitas masyarakat. Dari 16 kecamatan yang ada, berikut adalah 8 kecamatan dengan jumlah produksi sampah terbanyak dalam hitungan per hari.

Berikut Kecamatan Penghasil Sampah Terbanyak dalam sehari di Kabupaten Jepara:

  1. Kalinyamatan: 535.380 kilogram
  2. Jepara: 130.100 kilogram
  3. Welahan: 115.880 kilogram
  4. Mayong: 98.191 kilogram
  5. Tahunan: 87.570 kilogram
  6. Pecangaan: 86.980 kilogram
  7. Bangsri: 36.520 kilogram
  8. Kedung: 22.910 kilogram

"Delapan kecamatan itu terbanyak berdasarkan sampah yang masuk ke TPA Bandengan," sebut Yudy.
DLH, kata Yudy, terus berupaya untuk mengurangi produksi sampah yang masuk TPA. Antara lain dengan menyosialisasikan gerakan pilah sampah dari rumah.

Bukan hanya itu, lanjut Yudy, pemkab juga menyiapkan 14 unit tempat pengelolaan sampah recuce-reuse-resycle (TPS3R) di berbagai wilayah. Pemkab juga berkolaborasi dengan bank sampah.

"Lewat TPS3r ini, ada lebih dari 28 ribu ton sampah per tahun berhasil diolah menjadi kompos dan bahan baku daur ulang," pungkas Yudy.

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler