Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara - Banyak orang meyakini bahwa Mbah Dimyathi Sukri yang dimakamkan di Desa Sinanggul, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) adalah seorang pahlawan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Luwur atau penutup makamnya yang berupa kain bendera merah putih, dijadikan simbol bahwa Mbah Diymathi Sukri adalah pahlawan. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Dimyathi Sukri meninggal saat menjadi tentara rakyat, yaitu pada masa agresi militer Belanda ke II.

Astro Kliwat, juru kunci Makam Mbah Dimyathi Sukri, menilai lokasi makam yang berada di pelosok dan jauh dari permukiman, menandakan beliau adalah seorang wali yang ingin menjauh dari keramaian duniawi. Ia ingin menepi dan menyepi untuk mendekatkan diri dengan Ilahi.

Saat pemerintah Kabupaten Jepara hendak memindahkan makam-makam pejuang kemerdekaan yang telah gugur ke Taman Makam Pahlawan Jepara, makam Mbah Dimyathi Sukri juga turut digali. Tak disangka, saat digali, tak ada jejak apapun di dalam kuburan itu.

Pembongkaran makam itu disaksikan langsung oleh kakek Kliwat, orang yang pertama kali menemukan mayat Mbah Dimyathi dan menguburkannya. Mbah Dimyati Sukri diyakini menolak di makamkan di Taman Makam Pahlawan Jepara.

"Tapi tidak ada jejak apapun. Padahal di makam-makam lain ada sisa jasad. Sepertinya Mbah Dimyathi memang tidak ingin dikenal banyak orang. Beliau tetap ingin menyendiri," ujar Kliwat.

Selain itu, Kliwat juga menyebut ada keanehan lain. Tahun lalu, luwur makam Dimyathi Sukri hendak diganti oleh pihak tertentu. Alasannya agar makam tetap terlihat bersih. Sehingga direncanakan luwur diganti saban tahun sekali.

Rencana itu sudah sekali direalisasikan. Seorang penjahit langganan, yang biasa menjahit luwur Mbah Dimyathi Sukri diminta membuat luwur merah putih yang baru. Ukurannya sama persis dengan biasanya. Bahkan penjahit itu mengukur kembali secara langsung ke makam.

Saat dipasang, tiba-tiba saja luwur baru tidak pas dengan ukuran makam Mbah Dimyati Sukri. Sudah berkali-kali disesuaikan dengan ruang makam. Namun tetap saja tidak pas.

"Wong, luwur yang lama masih bagus. Kok diganti lagi. Mestinya belum perlu," kata Kliwat. (Bersambung).

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler