Kondisi itu bahkan membuat gudang produksinya terus berkurang. Salah satu penyebabnya adalah tren orang lebih memilih seng atau asbes saat membangun rumah.
Rupanya, akhir-akhir ini banyak orang sudah merasakan dampak buruk atap seng maupun asbes. Banyak yang merasa rumahnya lebih panas.
Hanya saja, saat ini Suratno dan para produsen lainnya menghadapi sejumlah kendala. Antara lain minimnya modal dan berkurangnya tenaga kerja.
”Kalau modalnya cukup, ada pesanan berapapun kami siap. Untuk itu, kami harap ada relaksasi atau suntikan modal dari pemerintah,” harap Suratno.
Kesiapan produksi genting juga dinyatakan oleh Sudaryono, perajin lain di sentra genting Mayong. Selain masalah modal dan tenaga kerja, kendala yang dihadapi para perajin adalah ketersediaan bahan baku.
”Tanah kualitas bagus di sini sudah agak langka. Kemarin saya harus beli dari Pati dan Purwodadi (Grobogan),” ujar pengusaha yang kerap mengirim genting ke Jakarta itu.
Menurutnya, harus ada persiapan khusus dalam menyambut program gentengisasi itu. Terutama soal harga jual agar lebih stabil.
Murianews, Jepara – Program gentengisasi yang digulirkan pemerintah pusat tampaknya membawa angin segar bagi para perajin genting. Secara khusus, Kabupaten Jepara, bahkan menjadi opsi penyuplai genting dari Jawa Tengah (Jateng).
Opsi itu muncul dalam pertemuan antara Gubernur Jateng, Akhmad Luthfi, Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta sejumlah pejabat lain dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait pada Kamis (2/4/2026) lalu.
Pertemuan itu antara lain membahas terkait gentengisasi dalam program bedah rumah atau bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS). Khusus di Jateng, Kabupaten Jepara dan Kebumen diusulkan menjadi opsi penyuplai genting untuk program tersebut.
Rencana itu pun sudah didengar sebagian produsen genting di Jepara. Beberapa dinas terkait, seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) bahkan telah mendatangi beberapa produsen genting. Antara lain di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong.
Berdasarkan pendataan sementara yang dilakukan Disperindag, tercatat ada 73 produsen yang tersebar di beberapa kecamatan di Kota Ukir.
Suratno, salah satu pengusaha genting asal Desa Mayong Lor, mengaku telah mendengar kabar tersebut. Saat ini, informasi itu masih jadi pembahasan di tingkat desa. Lewat paguyuban perajin genting, pihak desa menyiapkan betul rencana gentengisasi itu.
”Kalau memang benar, ya Alhamdulillah. Supaya usaha genting bisa bangkit lagi, ramai lagi. Ekonomi bisa jalan,” kata Suratno, Kamis (16/4/2026).
Suratno mengakui, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, permintaan genting turun drastis. Jika dulu per hari bisa memproduksi minimal tiga ribu buah, akhir-akhir ini maksimal hanya separuhnya.
Lebih Pilih Seng atau Asbes...
Kondisi itu bahkan membuat gudang produksinya terus berkurang. Salah satu penyebabnya adalah tren orang lebih memilih seng atau asbes saat membangun rumah.
Rupanya, akhir-akhir ini banyak orang sudah merasakan dampak buruk atap seng maupun asbes. Banyak yang merasa rumahnya lebih panas.
Bak gayung bersambut, program gentengisasi, menurut Suratno sangat tepat menjadi solusi atas masalah tersebut. Dia pun mendukung penuh program tersebut.
Hanya saja, saat ini Suratno dan para produsen lainnya menghadapi sejumlah kendala. Antara lain minimnya modal dan berkurangnya tenaga kerja.
”Kalau modalnya cukup, ada pesanan berapapun kami siap. Untuk itu, kami harap ada relaksasi atau suntikan modal dari pemerintah,” harap Suratno.
Kesiapan produksi genting juga dinyatakan oleh Sudaryono, perajin lain di sentra genting Mayong. Selain masalah modal dan tenaga kerja, kendala yang dihadapi para perajin adalah ketersediaan bahan baku.
”Tanah kualitas bagus di sini sudah agak langka. Kemarin saya harus beli dari Pati dan Purwodadi (Grobogan),” ujar pengusaha yang kerap mengirim genting ke Jakarta itu.
Menurutnya, harus ada persiapan khusus dalam menyambut program gentengisasi itu. Terutama soal harga jual agar lebih stabil.
Banyak Perajin Gulung Tikar...
Sudaryono mengungkapkan, banyak perajin yang gulung tikar akibat anjloknya harga jual. Beberapa tahun terakhir, harga genting bahkan sempat jatuh di angka Rp 750 per buah.
Saat ini, lanjut Sudaryono, harge jual berada di angka Rp 1.050 per buah. Menurutnya, harga standar semestinya Rp 1.500 per buah. Sudaryono menila, harga jual genting sangat berkorelasi dengan tersedianya tenaga kerja.
”Standar harga genting harus disesuaikan dengan upah pabrik. Kalau tidak, pekerja pada lari semua ke pabrik. Paling tidak harganya Rp 1.500 per buah,” imbuh Sudaryono.
Untuk itu, dia berharap betul agar program gentengisasi yang digulirkan oleh Presiden Prabowo Subianto itu tak hanya menjadi wacana. Tetapi terealisasi demi kesejahteraan industri genting.
Editor: Dani Agus