Jembul Tulakan: Warisan Sumpah Ratu Kalinyamat yang Terus Lestari
Faqih Mansur Hidayat
Senin, 20 April 2026 14:48:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara - Ribuan masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) tumplek blek di depan rumah kepala desa, Senin (20/4/2026). Mereka menggelar sedekah bumi sekaligus arak-arakan Jembul Tulakan.
Ada empat kelompok masyarakat yang membawa ancak atau gunungan, yang terbuat dari iradan atau bambu yang disisir tipis menyerupai rambut ikal atau jambul yang diarak di Tradisi Jembul Tulakan ini. Di dalam gunungan itu ada hasil pertanian.
Tradisi Jembul Tulakan yang kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan RI ini, tak lepas dari kehidupan Ratu Kalinyamat. Sosok yang bagi masyarakat Jepara dianggap sebagai Sang Ratu, yang kini telah menjadi pahlawan nasional itu.
Budi Sutrisno, Petinggi Desa Tulakan menyebutkan, tradisi Jembul Tulakan ini berkaitan erat dengan sumpah Ratu Kalinyamat. Diceritakan, pada satu masa, Ratu Kalinyamat kehilangan suaminya, Sultan Hadlirin, yang tewas dibunuh Arya Penangsang.
Kematian suaminya itu menimbulkan amarah dan dendam membara di dada sang ratu. Kemudian, sang ratu melakukan tapa wuda di bukit Donorojo, tepatnya di daerah Sonder. Di sana, Ratu Kalinyamat melepaskan semua atributnya sebagai ratu dan penguasa Jepara.
"Kanjeng Ratu Kalinyamat bertapa wuda untuk menuntut keadilan kepada Maha Penguasa karena suaminya dibunuh Arya Penangsang," kata Budi.
Dalam pertapaan itu, Ratu Kalinyamat mengumbar sumpah. Yaitu “Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Aku tidak akan turun dari bertapa sebelum bisa kesed dengan jambul atau rambut Arya Penangsang).
Sumpah itu rupanya didengar Yang Maha Kuasa. Arya Penangsang berhasil dibunuh oleh Danang Sutawijaya.
Sesuai permintaan Ratu Kalinyamat, rambut dan darah Arya Penangsang dibawa kepada Ratu Kalinyamat di pertapaan.
Tak hanya keset dengan rambut atau jambul Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat juga keramas dengan darah pembunuh suaminya tersebut. Itulah mengapa akhirnya ada tradisi bernama Jembul Tulakan.
“Setelah keberhasilan itu, akhirnya Ratu Kalinyamat menghentikan tapa wudanya,” jelas Budi.
Lalu, jambul tersebut diarak ke permukiman masyarakat setempat. Dari tragedi itulah, akhirnya masyarakat Desa Tulakan menggelar tradisi Jembul Tulakan. Tradisi ini dibarengkan dengan agenda sedekah bumi. Masyarakat berdoa agar diberi kelimpahan rejeki dan keberkahan hidup.
Editor: Budi Santoso



