Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Nama Haji Mas (HM) Ashadie mungkin tak sepopuler tokoh industri rokok Kudus lainnya. Namun jejaknya begitu besar dalam sejarah kretek Kudus, Jawa Tengah.

Lahir pada 1894, Ashadie merupakan putra sulung dari Atmowidjojo. Ia tak sekadar saudagar, namun juga sosok yang menanamkan nilai kerukunan dan spiritualitas dalam keluarga.

”Ashadie menunaikan ibadah haji di usia muda, 18 tahun, pada 1913. Setahun kemudian ia merintis usaha kreteknya bersama istri pertamanya Masamah,” ujar Pegiat di Komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT), Yusak Maulana, Minggu (29/6/2025).

Pada 1916. ia membuka pabrik kreteknya sendiri di rumah ayahnya, Dusun Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus. Dua tahun berselang, Ashadie memisahkan diri dari usaha ayahnya dan mengeluarkan merek Cap Delima.

Istri Keduanya, Fatimah atau yang akrab disapa Mak Fat merupakan sosok legendaris dalam peracikan saus tembakau.

”Racikannya begitu legendaris sampai ada anekdot, rumput pun bisa laku kalau disausi Mak Fat,” katanya.

Antara 1926 hingga 1939, Pabrik Rokok Delima mencapai puncak kejayaan. Dengan sekitar 3.000 buruh dan jaringan distribusi meluas, Ashadie membangun 13 bangunan pabrik termasuk kompleks utama seluas 12.000 meter persegi.

Namun, usahanya goyah kala Jepang menduduki Indonesia. Aset-asetnya disita, harga bahan mahal membuat industrinya merana.

Peninggalannya... 

Kolonel Gatot Subroto sempat berkunjung ke Pabrik Delima dalam rangka konsolidasi pasca pemberontakan PKI pada tahun 1948. Dalam kunjungan itu, Ashadie menghadiahkan seekor kambing betina.

Setahun selepasnya, pabrik mulai memproduksi sigaret kretek. Beberapa tahun kemudian, Haji Mas Ashadie meninggal pada 1952 dalam usia 58 tahun.

Pabrik dilanjutkan putranya, Kamal Ashadie. Namun perlahan, produksi menurun dan pabrik resmi berhenti beroperasi pada 1 Mei 1990.

Delapan tahun kemudian, CV Pabrik Rokok Delima dibubarkan. Keluarga sepakat tak melanjutkan bisnis, menandai akhir satu bab penting sejarah kretek Kudus milik Ashadie.

Kini, bangunan dan kisahnya menjadi bagian dari napak tilas sejarah yang dihidupkan kembali lewat inisiatif pegiat seperti Yusak.

”Jejaknya masih ada, bukan hanya bangunan, tapi juga nilai-nilai hidup yang disampaikan, sing do rukun, do ndedonga (Yang saling rukun dan mendoakan),” pungkasnya.

Editor: Zulkifli Fahmi

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler