Ritual Makan Korban di Tahun 2022: Paling Tragis Terjadi di Pantai Payangan Jember
Murianews
Jumat, 30 Desember 2022 22:06:10
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Peristiwa ini bukan terjadi akibat bencana alam. Namun, disebabkan adanya kegiatan ritual tertentu yang dilakukan sebelumnya.
Berikut daftar peristiwanya yang dirangkum Murianews, Jumat (31/12/2022):
Baca juga: Peristiwa Menonjol di Seputar Dunia Olahraga
1. Ritual di Pantai Payangan Jember, Jatim
Sebanyak 11 orang dari 23 orang yang melakukan ritual di Pantai Payangan Jember dinyatakan telah meninggal dunia. Korban meninggal setelah terseret ombak saat melakukan ritual di pantai tersebut.
Peristiwa ini bermula pada Sabtu (12/2/2022) malam pukul 23.00 WIB. saat itu ada rombongan kelompok Tunggal Jati Nusantara hendak melakukan ritual di pantai Payangan, Jember, Jawa Timur. Rombongan yang sebagian besar merupakan warga Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Jember itu naik bus mini dengan nomor polisi DK-7526-VF.
Didalamnya terdapat 23 orang. Setibanya di pantai Payangan, mereka mulai mendekati bibir pantai sambil menunggu hingga pukul 00.00 WIB. Tepat pada pukul 00.00 WIB, rombongan tersebut kemudian melakukan ritual di tepi pantai payangan. Belum diketahui ritual seperti apa yang dilakukan oleh rombongan tersebut.
Sebelum melakukan ritual, mereka sudah diingatkan oleh warga sekitar pantai agar tidak mendekat di tepi pantai, lantaran pada saat tengah malam, gelombang laut cukup tinggi. Namun, mereka tidak menghiraukan peringatan itu dan tetap melakukan ritual.
”25 menit Ketika melakukan ritual, ombak besar tiba-tiba datang dan menyeret 23 orang yang melakukan ritual itu,” kata Kasat Reskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna dilansir dari Kompas.com, Minggu (13/2/2022).
Warga yang melihat kejadian kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak terkait. Petugas gabungan kemudian melakukan evakuasi terhadap korban.
”Tidak semuanya tisa diselamatkan. Sejauh ini, ada 12 korban yang berhasil diselamatkan, sementara 11 lainnya meninggal dunia,” jelas Yogi.
2. Ritual di Sungai Kahyangan Wonogiri
[caption id="attachment_344821" align="alignleft" width="1890"]
Foto: Tim gabungan sukarelawan sedang mencari keberadaan pria yang kalap di sungai di kawasan wisata Kahyangan, Wonogiri (solopos.com/SAR Wonogiri)[/caption]Seorang pria paruh baya dilaporkan hanyut di sungai yang ada di kawasan wisata Kahyangan, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah, Minggu (4/12/2022) siang. Korban diketahui berinisial SP (54) yang merupakan warga Kabupaten Sukoharjo.
Melansir dari Solopos.com, kejadian itu bermula saat korban bersama teman perempuannya berinisial IA (35), warga Solo, hendak menjalani ritual di objek wisata Kahyangan.
Usai melaksanakan ritual, keduanya berniat meninggalkan kawasan wisata dengan cara menyeberangi sungai melewati bebatuan. ”Saat menyeberang, mereka berdua terpeleset, lalu jatuh. Yang perempuan selamat, tapi laki-lakinya belum ketemu,” kata Kepala Desa (Kades) Dlepih, Sutarmo, Minggu petang.
Pria itu tenggelam di kawasan Kedung Pesiraman, tepatnya di bawah petilasan pesolatan. Korban hanyut di sungai kawasan wisata Kahyanganini baru ditemukan pada Selasa (6/12/2022) pagi. Tim search and rescue (SAR) gabungan menemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Foto: Rumah sekeluarga tewas 'mengering' di Kalideres, jakarta Barat (Detik.com)[/caption]Peristiwa menggegerkan terjadi di Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (10/11/2022). Satu keluarga terdiri dari empat orang ditemukan meninggal di sebuah rumah di daerah Kalideres.Keempat korban ditemukan meninggal dalam kondisi sudah mengering tubuhnya. Korban diketahui adalah pasangan suami istri Rudyanto Gunawan (71) dan Renny Margaretha (68) dan anaknya Dian Febbyana (42). Satu lagi adalah Budiyanto Gunawan (68) yang merupakan adik dari Rudyanto Gunawan.Kematian empat orang itu sempat menjadi misteri. Banyak pihak yang menyebutkan jika keempatnya meninggal akibat menjalani ritual tertentu sebelumnya.Ada juga yang mengabarkan jika para korban merupakan korban perampokan atau pencurian. Kemudian, ada juga rumor jika keempatnya meninggal akibat kelaparan.Keluarga korban selama ini dikenal jarang berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Warga pun juga tidak tahu persis aktivitas yang dilakuka sehari-hari.Pihak kepolisian pun butuh kerja keras untuk mengungkap kasus ini. Setelah bekerja hampir satu bulan, penyebab kematian empat orang inipun mulai terungkap.Melansir dari Detik.com, Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengatakan, kematian satu keluarga Kalideres ini tergolong kasus rumit. Polisi melibatkan sejumlah ahli untuk mengungkap penyebab kematian keluarga Kalideres.”Sebagaimana kita ketahui metode penyelidikan yang kami kembangkan yaitu scientific crime investigation. Ketika kita melakukan penyelidikan ilmiah kita harus telusuri dan analisis bukti yang tersedia untuk memastikan hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Hengki di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (9/12/2022).Pihaknya butuh waktu lama perlu kehati-hatian dan ketelitian. ”Karena memang scientific crime investigation membutuhkan analisis yang cermat dan bukti-bukti yang tersedia. Proses ini melibatkan pengumpulan dan analisis investigasi data secara langsung. Karena penyelidikan ini melalui metode ilmiah maka harus melalui proses verifikasi yang ketat,” lanjut Hengki.Berbagai spekulasi sempat muncul terkait penyebab kematian keluarga Kalideres. Namun, satu keluarga tersebut dipastikan bukan penganut sekte. Mereka meninggal dunia karena sakit.”Kesimpulan saya mereka bukan penganut sekte, apalagi apokaliptik. Mereka orang normal yang bisa meninggal secara wajar karena penyakit dan yang lain-lain," kata pakar sosiolog agama Jamhari MA dalam di lokasi jumpa pers yang sama.Berdasarkan penyelidikan tim forensik, empat orang tersebut meninggal secara wajar. ”Berdasarkan pemeriksaan area psikologis tersebut ditemukan adanya petunjuk rating lethality atau cara kematian Budyanto, Rudyanto, Renny, dan Dian, yang mengarah pada yang sama, yaitu kematian yang wajar,” ungkap Ketua Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) Reni Kusumowardani. Penulis: Cholis Anwar, Dani AgusEditor: Dani AgusSumber: solopos.com, Kompas.com, detik.com
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



