Di sejumlah lokasi tersebut, pedagang memanfaatkan area tepi jalan dan trotoar untuk berjualan.
Salah satu pembeli, Rizki, warga Mejobo, mengaku sengaja berburu takjil setiap sore selama Ramadan.
”Kalau beli takjil itu rasanya sudah jadi tradisi. Tiap hari pasti muter, kadang ke Menara, kadang ke Jati. Pilihannya banyak dan harganya masih terjangkau,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Hal serupa disampaikan pembeli lain, Mufasani, warga Kaliwungu.
”Lebih seru beli langsung di pinggir jalan. Bisa lihat banyak makanan, kadang malah beli lebih dari rencana awal,” katanya sambil tertawa.
Murianews, Kudus – Selama Ramadan, sejumlah ruas jalan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai berubah fungsi setiap sore hari. Kawasan yang biasanya lengang, mendadak dipenuhi lapak pedagang takjil dan warga yang berburu menu berbuka puasa.
Dari hasil pantauan di lapangan, beberapa titik mulai dipadati pedagang dan pembeli pada pukul 16.30 WIB hingga waktu magrib.
Salah satu pusat keramaian tampak di kawasan Menara Kudus. Di sepanjang jalan sekitar masjid, pedagang menjajakan beragam menu seperti es teler creamy, es buah, gorengan, hingga aneka jajanan lainnya.
Selain di pusat kota, keramaian juga terpantau di Singocandi, tepatnya di depan SMP 4 Kudus. Di lokasi ini, deretan lapak berjajar di tepi jalan dan ramai diserbu pelajar serta warga sekitar.
Kondisi serupa juga terlihat di depan MA dan SMK Banat Kudus. Kawasan tersebut hampir dipenuhi kendaraan pembeli yang berhenti untuk membeli makanan berbuka.
Pedagang takjil juga muncul di Desa Pasuruhan Lor, tepatnya di depan Masjid Besar Baitul Makmur. Sementara di kawasan Ratan Tengah, Desa Prambatan Lor, lapak pedagang berdiri di sisi jalan desa dan menjadi tempat favorit warga sekitar menunggu waktu berbuka.
Sementara itu di Kecamatan Jati, keramaian terlihat mulai dari area Museum Kretek hingga SMP 1 Jati. Warga terlihat berburu menu berbuka sejak sore hari.
Titik lain yang juga ramai yakni di depan Lapangan Rendeng, Lapangan Gondangmanis, serta kawasan depan GOR Kudus dan Taman Krida.
Tepi Jalan...
Di sejumlah lokasi tersebut, pedagang memanfaatkan area tepi jalan dan trotoar untuk berjualan.
Salah satu pembeli, Rizki, warga Mejobo, mengaku sengaja berburu takjil setiap sore selama Ramadan.
”Kalau beli takjil itu rasanya sudah jadi tradisi. Tiap hari pasti muter, kadang ke Menara, kadang ke Jati. Pilihannya banyak dan harganya masih terjangkau,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Hal serupa disampaikan pembeli lain, Mufasani, warga Kaliwungu.
”Lebih seru beli langsung di pinggir jalan. Bisa lihat banyak makanan, kadang malah beli lebih dari rencana awal,” katanya sambil tertawa.
Reporter: Wiwid Widia Yulhendrik
Editor: Supriyadi