Di sisi lain, kegiatan sosial berupa santunan dari para guru dihimpun dan disalurkan kepada siswa maupun pihak yang membutuhkan.
Kelas 12 diarahkan pada persiapan Ujian Madrasah, sedangkan kelas 10 dan 11 difokuskan pada pemantapan asesmen setelah Lebaran.
Bagi salah satu siswi MA NU Banat, Cahaya Ova Sholihah, mengaku paling menantikan pesantren mukim dan khataman.
”PR berkurang jadi tidak terlalu terbebani. Tips saya, ingat cita-cita dan usaha orang tua supaya tetap semangat belajar walau puasa,” katanya.
Penyesuaian serupa juga dilakukan di SMA 1 Kudus. Jam belajar berubah menjadi pukul 07.30–14.45 WIB dari sebelumnya 07.00–15.30 WIB. Durasi satu jam pelajaran dipangkas menjadi 30 menit.
Waka Kurikulum SMA 1 Kudus, Daviq Prasetian mengatakan kegiatan diawali tadarus dan kajian, serta ditutup dengan kegiatan serupa sebelum pulang.
”PR dikurangi, dan sekolah menggelar pesantren kilat untuk kelas 10 setiap Selasa serta kelas 11 selama dua hari di pekan terakhir puasa. Kelas 12 tidak diikutkan karena difokuskan pada persiapan UTBK,” jelasnya.
Murianews, Kudus – Suasana di sejumlah sekolah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tampak berbeda saat Ramadan. Sebelum pelajaran dimulai, siswa lebih dulu mengikuti tadarus dan berdoa bersama.
Jam belajar juga dipangkas, sementara kegiatan keagamaan diperbanyak. Meski ada penyesuaian, proses pembelajaran tetap berjalan dan target akademik tidak ditinggalkan.
Di MA NU Banat Kudus, penyesuaian sudah terlihat sejak pagi. Tampak para siswi di sana mengawali kegiatan dengan tadarus Alquran mulai 06.20 WIB secara sentral, dilanjutkan doa pembelajaran dan istighasah.
Setelah kegiatan tadarus dan doa bersama selesai, KBM dimulai pukul 07.30 WIB. Sedianya, kegiatan ini cukup rutin dilakukan di MA NU Banat, hanya waktu KBM sedikit ada penyesuaian.
Selama Ramadan, durasi satu jam pelajaran dikurangi dari 45 menit menjadi 40 menit. Jumlah jam pelajaran juga berkurang dari sembilan jam menjadi enam jam, dengan waktu belajar mulai dari pukul 06.45 WIB hingga pukul 11.45 WIB.
Waka Humas MA NU Banat Kudus, Khairun Nihlah, mengatakan ada pengajian kitab untuk seluruh kelas serta pesantren Ramadan mukim pada 7–11 Maret bagi kelas 11 yang akan menginap di sekolah.
”Kegiatannya dari pagi sampai malam, mulai tadarus, ngaji, salat sunah, tarawih, buka bersama, sampai maknani kitab. Tahun ini temanya Cerdas Sosial dengan Pribadi Mindfulness,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Madrasah juga menetapkan target ibadah yang jelas. Setiap siswi ditargetkan mengkhatamkan Alquran minimal satu kali selama Ramadan. Hafalan doa dan penguatan juz 30 turut ditekankan.
Di Sisi Lain...
Di sisi lain, kegiatan sosial berupa santunan dari para guru dihimpun dan disalurkan kepada siswa maupun pihak yang membutuhkan.
Dari aspek kurikulum, Waka Kurikulum MA NU Banat Kudus, Tri Mastuti, menjelaskan penyesuaian jam mengacu pada kalender pendidikan Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah. Tugas akademik diminimalkan agar siswa bisa lebih fokus menjalankan ibadah.
Kelas 12 diarahkan pada persiapan Ujian Madrasah, sedangkan kelas 10 dan 11 difokuskan pada pemantapan asesmen setelah Lebaran.
Bagi salah satu siswi MA NU Banat, Cahaya Ova Sholihah, mengaku paling menantikan pesantren mukim dan khataman.
”PR berkurang jadi tidak terlalu terbebani. Tips saya, ingat cita-cita dan usaha orang tua supaya tetap semangat belajar walau puasa,” katanya.
Penyesuaian serupa juga dilakukan di SMA 1 Kudus. Jam belajar berubah menjadi pukul 07.30–14.45 WIB dari sebelumnya 07.00–15.30 WIB. Durasi satu jam pelajaran dipangkas menjadi 30 menit.
Waka Kurikulum SMA 1 Kudus, Daviq Prasetian mengatakan kegiatan diawali tadarus dan kajian, serta ditutup dengan kegiatan serupa sebelum pulang.
”PR dikurangi, dan sekolah menggelar pesantren kilat untuk kelas 10 setiap Selasa serta kelas 11 selama dua hari di pekan terakhir puasa. Kelas 12 tidak diikutkan karena difokuskan pada persiapan UTBK,” jelasnya.
Sering Ngaji...
Firoos Subasyam, siswa SMA 1 Kudus, menilai suasana Ramadan membuat kegiatan keagamaan di sekolah lebih terasa.
”Yang paling berkesan jadi lebih sering ngaji di sekolah, jadi terasa suasana Ramadan. Tantangannya kalau siang agak sulit fokus karena lapar,” ujarnya.
Menengok kegiatan sekolah selama Ramadan, baik madrasah maupun SMA sama-sama melakukan penyesuaian jam belajar dan penguatan ibadah berjalan beriringan, tanpa melepas target akademik yang sudah ditetapkan.
Reporter: Wiwid Widia Yulhendrik
Editor: Zulkifli Fahmi