Deretan Lapak Penukaran Uang Pinggir Jalan Mulai Hiasi Kota Kudus
Murianews
Senin, 9 Maret 2026 17:01:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Menjelang Idulfitri 1447 H, jasa penukaran uang pecahan kecil mulai menjamur di sudut-sudut strategis Kabupaten Kudus, Senin (9/3/2026).
Di atas meja lipat sederhana, tumpukan uang baru pecahan Rp 1.000 hingga Rp 20.000 tertata rapi. Beberapa di antaranya dijepit melingkar menyerupai kipas, sebuah siasat visual untuk menarik perhatian para pengendara yang melintas di tengah terik matahari Ramadan.
Salah satu pelapak adalah Subandi, pria asal Bangetayu, Semarang. Sehari-hari, ia adalah seorang pedagang mie kopyok di Kota Atlas. Namun, karena lapak tutup selama siang hari di bulan puasa, ia memilih memboyong meja lipatnya ke depan Masjid Agung Kudus.
”Sudah hampir sepuluh tahun setiap menjelang Lebaran saya ke sini. Daripada menganggur di rumah karena warung tutup siang hari, lebih baik mencari tambahan dengan jasa tukar uang,” ungkap Subandi kepada Murianews.com.
Subandi mengaku hanya mengambil bagian keuntungan atau ”persenan” dari penyedia uang besar.
Untuk setiap penukaran senilai Rp 100.000, ia mengenakan biaya jasa sebesar Rp 15.000. Meski saat ini kondisi pasar masih tergolong sepi dengan omzet sekitar Rp 200.000 per hari, ia tetap optimis.
”Biasanya keramaian baru memuncak sepekan sebelum Lebaran. Kalau sudah ramai, transaksi bisa menembus Rp 10 juta dalam sehari,” tambahnya.
Fenomena ini menarik karena sebagian besar pelapak justru bukan warga lokal, melainkan pendatang dari Semarang yang sudah melakoni profesi ini selama belasan tahun.
Jasa penukaran...
- 1
- 2



