Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Selain wayang thengul, Blora juga memiliki wayang kulit dan wayang krucil sebagai seni pertunjukan tradisional. Namun, wayang thengul mulai tak lagi dilirik sejak 2000an.

Wayang thengul memiliki kemiripan dengan wayang golek. Namun, ada perbedaan jelas dari cerita yang diangkat serta karakter tokoh yang ditampilkan.

Lantaran mulai tak dilirik di Blora, kesenian ini pun kini diakui daerah tetangga, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Wayang thengul menjadi warusan budaya tak benda di sana.

Pengakuan penetapan dilakukan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia.

Baca: Mulai Terlupakan, Wayang Thengul Dijadikan Wisata Budaya di Blora

Meski sudah diakui daerah lain, warga Desa Bangowan, Kecamatan Jiken, Kabubpaten Blora kembali merintis seni pertunjukan itu. Mereka memadupadankan dengan paket wisata di desa tersebut.

Hanif Masadini, penerus pemilik wayang thengul generasi ke 3 di Bangowan itu mencoba mengolaborasikan wisata alam yang telah ada dengan wayang thengul. Itu menjadi salah satu ikhtiarnya menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia agar tidak tergerus oleh zaman.

’’Wayang thengul jarang diminati khususnya generasi muda. Agar tetap terjaga, kami coba kolaborasikan dengan wisata alam yang sudah ada saat ini,’’ kata Hanif yang juga salah satu penggiat wisata Desa Bangowan, Senin (7/11/2022).

Di Hari Wayah Sedunia ini, lanjut Hanif, ia ingin menumbuhkan gairah generasi muda untuk terus mengenal budaya asli Indonesia.Ia menilai, banyak generasi muda beranggapan pertunjungan wayang susah dimengerti. Sebab, pertunjukan wayang selalu menggunakan bahasa daerah, sementara generasi muda saat ini, lebih mengerti Bahasa Indonesia, asing, maupun campuran.Selain itu, durasi pertunjukan seni wayang juga dirasakan terlalu lama. ’’Jadi memang kami harus pandai membuat tampilan agar wayang thegul tetap bisa eksis dan mulai diminati kembali,’’ jelasnya.Baca: Baznas Blora Diminta Optimalkan Potensi Zakat hingga Rp 1 Miliar per BulanHanif menjelaskan menurunnya minat generasi muda terhadap wayang juga disebabkan cerita yang cenderung berat, penuh renungan, dan bobot filosofis tinggi. Bahkan, katanya, muncul anggapan lakon dan pesan wayang dianggap hanya untuk orang tua yang membutuhkan pencerahan.’’Saat ini dalang wayang thengul di Blora tinggal tersisa sekitar tiga orang. Ini tentu menjadikan kita sebagai penerus harus bisa berinovasi terus, agar kesenian ini bisa selalu kenal generasi muda. Meski diakui di kabupaten tetangga (Bojonegoro, red), sebagai generasi muda tentu kita patut ikut melestarikannya, dengan harapan wayang selalu dikenal oleh masyarakat luas,’’ harapnya. Kontributor BloraEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler