Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Grobogan – Makam Mbah Gareng berada di kompleks Makam Syech Sirojuddin di kompleks Ponpes Miftahul Huda Ngroto, Kecamatan Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Mbah Gareng yang bernama asli Khoiron atau Choiron diyakini merupakan leluhur KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Pemerhati Sejarah Lokal Grobogan Heru Herdono mengatakan, Mbah Gareng kecil atau Khoiron merupakan satu santri asal Tingkir, Salatiga yang berguru kepada Kiai Sirajuddin di Ngroto.
Khoiron merupakan santri yang menonjol dan cerdas, lebih pintar dibanding santri lain. Khoiron dipanggil gareng karena memiliki perawakan yang kecil dan pendek.
”Mbah Gareng kecil, Khoiron itu cerdas. Tapi dia kecil dan pendek, makanya dipanggil gareng,’’ kata sosok yang akrab disapa Mbah Bedjo itu, Kamis (10/8/2023).
Mbah Gareng ketika dewasa memilih menetap di Ngroto dan menikahi gadis setempat. Mbah Gareng memiliki dua orang anak, yakni Asngari dan Asy’ari.
”Asngari memilih menetap di Ngroto, sedangkan Asy’ari kemudian memperdalam ilmu agama di Tuban hingga menetap di Jombang, Jawa Timur,’’ cerita dia.
Dari Asy’ari itulah kemudian lahir tokoh besar KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Hasyim Asy’ari merupakan kakek Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden Indonesia keenam.
Semasa hidupnya, Gus Dur disebut-sebut pernah ziarah ke makam Mbah Gareng. Pada 2019 lalu, Yeny Wahid, salah satu putri Gus Dur juga menziarahi makam tersebut.
Editor: Dani Agus



