Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Grobogan – Di balik kokohnya Gedung Papak, bangunan peninggalan kolonial Belanda di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah itu menyimpan kisah horor.
Kisah horor itu pun dialami sejumlah masyarakat yang penasaran dengan cerita itu. Sang penjaga Gedung Papak Sokiran (67), juga mengalaminya.
Menurutnya, bangunan yang sudah berdiri ratusan tahun dan disinggahi sejak 50 tahunan lalu itu menjadikan Gedung Papak berkesan angker.
’’Kata orang angker. Dikatakan angker ya angker, dikatakan tidak ya tidak. Tapi kalau saya ya berani, tidak takut,’’ kata dia saat ditemui baru-baru ini.
Selama menjaga Gedung Papak sejak 2005 lalu, Sokiran kerap mengalami kejadian horor dan diganggu sosok dari dunia lain itu. Dari suara-suara seram tanpa adanya sosok tersebut, hingga penampakan makhluk halus, pernah dia temui.
Sosok penampakan yang kerap dilihatnya adalah wanita Belanda, atau noni-noni Belanda. Ada juga mahluk dengan wajah yang rusak maupun berkepala binatang.
’’Ada noni-noni Belanda, masih muda noninya. Malah sering muncul siang hari. Ada juga penampakan yang wajahnya rusak. Ada yang tubuhnya orang, tapi kepalanya kerbau juga ada,’’ katanya.
Kisah horor itu sudah menyebar dari mulut ke mulut. Bahkan, sudah banyak pembuat konten horor yang mendatangi Gedung Papak. Mereka juga membuktikan sendiri keangkeran bangunan tersebut.
’’Kalau yang melihat (hantu) itu yang bikin konten. Atau yang belum pernah ke sini, baru pertama kalinya biasanya melihat,’’ ujar Sokiran.
Sokiran sendiri setiap pagi dan petang selalu memasuki gedung tersebut untuk menyalakan dan mematikan lampu. Sebab, sakelarnya hanya ada di dalam Gedung Papak.
Sepanjang pengalamannya menjadi penjaga, Sokiran juga pernah dimarahi orang tua yang anaknya kesurupan sepulang dari Gedung Papak.
Dia sebenarnya sudah melarang anak-anak yang ingin masuk, namun sebagian memaksa tetap masuk.
’’Saya sudah larang tapi ada yang masuk, akhirnya kesurupan. Orang tuanya ke sini, saya dimarahi,’’ terangnya.
Sebagaimana diberitakan, Gedung Papak merupakan gedung tua berusia ratusan tahun. Gedung itu diyakini dibangun pada 1919.
Gedung Papak Grobogan sudah tidak dihuni sejak 1974 lalu. Pada sekitar tahun 1995, Gedung Papak sempat akan dijadikan museum, namun batal.
Editor: Zulkifli Fahmi



