Jumat, 24 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Grobogan - Kendati Grobogan tak memiliki pantai karena jauh dari laut, namun fenomena alam di Bledug Kuwu membuat warga bisa memproduksi garam.

Ada sekitar 50 petani garam di komplek wisata Bledug Kuwu, di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Mereka sehari-hari memanfaatkan air luberan Bledug Kuwu untuk dijemur hingga menjadi garam. Dari luberan lumpur di Bledug Kuwu mereka mengkais rezeki.

Sebagian dari mereka mengaku meneruskan pekerjaan menjadi petani garam yang dilakoni pendahulunya. Dari orang tua, keahlian mengolah luberan lumpur menjadi garam akhirnya menjadi mata pencaharian.

Salah satu petani garam di Bledug Kuwu adalah Sutomo, yang merupakan warga sekitar Bledug Kuwu. Ia mengaku menjadi petani garam karena meneruskan usaha dari pendahulunya.

"Saya sudah lama. Dulu simbah saya, nenek saya juga petani garam, jadi saya nguri-uri supaya tidak punah," ujarnya ditemui baru-baru ini.

Sutomo mengaku setiap pagi mengambil air dari luberan letupan Bledug Kuwu untuk kemudian dijemur. Lumpur-lumpur Bledug Kuwu disebutnya juga mengandung senyawa sulfur atau belerang.

Dalam seminggu, Sutomo mengaku bisa memproduksi lebih dari 30 kilogram garam. Per kilogram dijualnya Rp 10 ribu. Namun, kadang ia memberi harga khusus ke pembeli yang menawar.

"Seminggu bisa 10 kilogram lebih. Lumpurnya juga ada khasiatnya, dijual juga. Dijual di sini dan online," katanya.

Kemarau...

Di musim kemarau seperti sekarang ini, garam lebih cepat jadi karena tak ada hujan. Jika musim hujan, petani garam mesti bersabar karena butuh waktu lebih lama.

Sebab, jika air letupan Bledug Kuwu tercampur air hujan, tak bisa jadi garam. Petani garam di kawasan Bledug Kuwu, baru bisa memproduksi lebih banyak saat musim kemarau.

Sutomo mengklaim garam dari Bledug Kuwu berbeda dengan garam yang dihasilkan langsung dari laut. Baunya tidak amis seperti garam laut.

"Garam pantai dicium amis, di sini tidak amis," bebernya.

Selain menjual garam, para petani garam juga menjual lumpur dari luberan Bledug Kuwu. Mereka mengklaim lumpurnya bisa mengencangkan kulit.

Lumpur-lumpur yang disebutnya mengandung belereng itu pun diwadahi di botol mineral kemasan tanggung dan dijual Rp 5 ribu per botol.

"Lumpurnya juga banyak manfaatnya buat kulit. Mengencangkan, membersihkan pori-pori. Di sini Rp 5 ribu per botol," ujar petani garam Bledug Kuwu ini.

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler