Jumat, 24 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Grobogan – Pemerintah melalui Kemendikdasmen mulai menerapkan kurikulum Deep Learning atau pembelajaran mendalam pada tahun ajaran 2025/2026 atau setahun lalu menggantikan Kurikulum Merdeka.

Kini, sudah setahun kurikulum baru itu diterapkan. Lantas, bagaimana komentar sekolah yang menerapkannya?

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Gubug Abdul Haris Bahtiar Rahman mengungkapkan, secara umum konsep dasar pembelajaran tidak jauh berbeda.

Hanya saja, memang ada beberapa penekanan dalam penerapannya. Dalam deep learning, memanfaatkan teknologi digital, membangun kemitraan, serta menghadirkan suasana belajar yang bermakna dan menyenangkan.

”Bedanya, Deep Learning menekankan keterikatan yang lebih kuat dengan konteks kehidupan sehari-hari,” ujar dia, Jumat (24/7/2026).

Ia berujar, pendekatan Deep Learning berfokus pada muara pencapaian dimensi profil lulusan. Dimensi itu yakni keimanan dan ketakwaan, kemandirian, kesehatan, hingga kemampuan komunikasi dan ditargetkan secara berkelanjutan dari jenjang kelas 10 sampai kelas 12.

”Prosesnya dilandasi Mindful (Berkesadaran), Meaningful (Bermakna), dan Joyful (Menyenangkan),” imbuh guru mata pelajaran sejarah itu.

Lebih lanjut, Abdul Haris menyebut, dalam penerapan kurikulum era Presiden Prabowo ini menyoroti pentingnya fleksibilitas ruang belajar. Menurutnya, Deep Learning mendorong proses belajar yang aktif dan eksploratif di luar kelas.

Pemanfaatan Teknologi Digital... 

”Pembelajaran tidak boleh hanya terpaku di dalam kelas. Contohnya pada mata pelajaran sejarah, siswa bisa diajak langsung berkunjung ke museum,” jelasnya.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital juga menjadi perhatian. Penugasan siswa, kata dia, kini digeser ke media-media digital yang inovatif.

”Pemanfaatan digital harus lebih ditekankan. Kalau dulu siswa diminta membuat kliping dari koran bekas, sekarang mereka bisa pakai aplikasi seperti Canva untuk membuat poster digital, infografis, atau karya visual lain,” pungkasnya.

Editor: Dani Agus

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Berita Terkini

Terpopuler