Mengintip Ngruwahi Sewu Apem, Tradisi Sambut Ramadan di Tlogorejo Pati
Umar Hanafi
Senin, 20 Maret 2023 14:45:23
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Sewu apem atau seribu apem itu diarak dari Belik Bunton menuju Telaga di kompleks balai desa Tlogorejo. Menurut legenda di Desa Tlogorejo, Belik Bunton merupakan tempat kepala naga berada. Di mana ekornya ada di telaga di Balai Desa Tlogorejo.
Rute itu juuga sebagai wujud revitaliasi desa dengan memahami ’’asal mulanya’’. Di mana, warga harap mengingat asal mula dan sejarah Desa Tlogorejo.
’’Berangkat dari legenda itulah rute arakan sewu apem itu berlangsung. Dalam arakan itu juga apem ditempelkan di naga sebagai perlambang lestarinya budaya di Desa Tlogorejo,’’ ujar Ketua Karang Taruna Wira Utama Desa Tlogorejo Syamsul Huda.
Baca: Bupati Bebaskan KONI Kudus Berikan Bonus
Kegiatan ini ditujukan untuk persiapan menjelang Ramadan. Warga setempat menyakini kata apem sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu ’’afuan’’ atau ’’afuwwun’’ yang berarti pengampunan.
’’Dalam arakan apem ini mengandung permintaan pengampunan (kepada Tuhan YME) sebelum memasuki Ramadan,’’ lanjut dia.
Setelah arak-arakan Ngruwahi sewu apem, doa dan selawat dipanjatkan bersama. Usai doa, warga berebut mendapatkan apem yang dibagikan.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



