Larangan Mbah Cungkrung ke Warga Gambiran Pati Ini Masih Dipatuhi
Umar Hanafi
Jumat, 31 Maret 2023 17:16:20
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Salah satunya, Mbah Cungkrung melarang para pengikutnya bermewah-mewahan, seperti menanggap wayang maupun gamelan. Tujuannya, agar warga tidak terlena dengan kehidupan duniawi dan melupakan akhirat.
’’Beliau tasawuf. Orang tasawuf itu kan tidak pamer. Melakukan ibadah mahdhah. Soal kesenian beliau tidak seperti Sunan Kalijaga. Beliau menolak gamelan dan wayang kulit. Ramai-ramai tidak boleh. Jadi meninggalkan keduniawian. Zuhud,’’ tutur Ketua Yayasan Baiturrohim Desa Sukoharjo, Amal Hamzah.
Baca: Mbah Cungkrung, Murid Sunan Muria Penyebar Islam di Pati
Sebagian besar warga asli Gambiran masih mematuhi larangan itu. Namun, sejak 2000an, banyak warga pendatang yang tinggal di Gambiran melanggar larangan itu.
’’Orang Gambiran tidak boleh menanggap wayang dan gamelan. Tapi mulai tahun 2000-an larangan itu sudah dilanggar. Tetapi yang mendatangkan (melanggar) pendatang. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa,’’ kata lelaki yang juga penggiat sejarah ini.
Warga setempat mempercayai, Mbah Cungkrung merupakan murid Sunan Muria. Beliau wafat pada 1547 masehi. Ajaran tasawuf yang dilakoninya itu diperoleh dari Sunan Muria yang dikenal ahli tasawuf.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



