Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Menurut keponakan almarhum, Aminnudin, KH Ahmad meninggal di kediamannya di Semarang. Ia meninggal pada usia 88 tahun. Sebelumnya, Kiai Ahmad beberapa kali menjalani perawatan di RS Sultan Agung Semarang. Lantaran sempat mengalami pembengkakan di bagian jantung.

”Sudah sekitar tiga kali opname. Yang terakhir Sabtu (13/5/2023) sampai Sabtu (20/5/2023) opname di RS Sultan Agung. Terus pulang dan dikabarkan meninggal pada hari ini sekitar pukul 08.10 WIB,” ujar dia.

Baca: Gus Yasin Mundur dari Wagub Jateng, Begini Respon Ganjar

Aminnudin mengatakan pembengkakan jantung yang dialami KH Ahmad baru diketahui bulan Ramadan lalu. Sebelumnya, selama cek up kesehatan almarhum normal semua.

”Saat cek kesehatan semuanya normal. Tapi (saat ramadan) ternyata ada sedikit pembengkakan di jantung,” kata dia.

[caption id="attachment_382401" align="alignleft" width="1280"] Suasana rumah duka KH Ahmad di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati. (Murianews/Umar Hanafi)[/caption]

Ia menambahkan, jenazah KH Ahmad bakal diberangkatkan dari Semarang ke Cluwak pada pukul 13.30 WIB. Diprediksi, almarhum dikebumikan pada Selasa sore.

KH Ahmad rencananya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang terletak di belakang kediaman almarhum, Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.
”Dimakamkan di kampung halaman beliau. Di sini (Desa Cluwak). Keinginan beliau kalau meninggal kembali ke sini,” pungkas dia.Baca: Wagub Jateng Pilih Kamis Pahing untuk Daftar DPD ke KPU, Ternyata…Keluarga dan beberapa pelayanan telihat sudah mempersiapkan pemakaman. Saat ini, mereka menunggu kedatangan jenazah.Diketahui, kegigihan Kiai Ahmad dalam berjuang di NU sejak usia muda hingga menyentuh titik senja sangat layak diteladani. Usai meraih gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Gadjah Mada (UGM) Kiai Ahmad diangkat menjadi dosen di Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Banyumas.Di sela menekuni profesi sebagai akademisi, sebagaimana catatan yang ada di PWNU Jateng, Kiai Achmad saat itu dipercaya menjadi komandan Banser di Banyumas. Ia juga sempat menjadi dosen di FE Undip Semarang.Pada Konferwil NU di Solo (1989) mengamanatinya menjadi salah seorang Wakil Ketua PWNU Jateng. Kemudian, menjadi Ketua PWNU Jateng dalam konferwil NU di Semarang (1994) dan Grobogan (1998). Jabatan Wakil Gubernur Jateng disandangnya pada awal reformasi. Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler