Duh! 14 Ribu Warga Pati Masuk Kategori Keluarga Rawan Pangan
Umar Hanafi
Senin, 16 Oktober 2023 17:10:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Pati – Sebanyak 14 ribu jiwa warga di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, masuk kategoru keluarga rawan pangan. Pemerintah pun bakal memberikan bantuan beras kepada belasan ribu ribu keluarga rawan pangan ini.
Kabid Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Dinas Ketahan Pangan (Distapang) Pati Alfianingsih Firman Wigati mengatakan pemberian bantuan rencana digelar selama tiga bulan.
Mulai bulan Oktober, November dan Desember. Setiap bulan, masing-masing warga rawan pangan mendapatkan bantuan sebanyak 10 kilogram. Bantuan ini bertujuan untuk menangani kerawanan pangan.
”Tapi kayaknya bakal dikebut. Tahap 1 sudah mulai disalurkan. Sementara tahap 2 dan 3 kemungkinan digabung pada bulan Novembe. Ini yang mendapatkan bantuan sekitar 14 ribu sekian,” ujar Fifin, Senin (16/10/2023).
Bantuan beras dari Pemerintah Pusat yang disalurkan oleh Bulog Kabupaten Pati. Pihaknya berkewajiban melakukan monitoring serta mengawasi penyaluran bantuan ini.
”Kita juga cek. Apakah barangnya bagus sesuai dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan layak konsumsi atau tidak,” ungkap dia.
Bantuan baru digelontorkan pada tahun ini, yakni sejak awal tahun 2023. Sama seperti saat ini, setiap warga rawan pangan mendapatkan bantuan sebanyak 10 kg setiap bulannya. Bantuan disalurkan selama tiga bulan.
”Tapi beberapa KPM-nya tidak sama. Beberapa ada penambahan dan ada pengurangan juga. Tapi untuk penerunnya tidak signifikan. Untuk data dari BKKBN,” tutur dia.
Editor: Supriyadi



