Teater Minatani Pati Bakal Pentas di Kudus dan Semarang, Ini Lakonnya
Umar Hanafi
Jumat, 28 November 2025 17:36:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Pati – Teater Minatani Pati bakal mementaskan pertunjukan tak biasa di Kabupaten Kudus dan Kota Semarang. Mereka bakal menyajikan pertunjukan dengan judul ’Martir’.
Pementasan ini menjadi bagian dari tur Teater Minatani Pati sekaligus menandai produksi ke-17 sejak komunitas teater ini berdiri. Pertunjukan yang akan digelar di dua kota itu akan dibuka di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) pada Rabu (3/12/2025) mendatang.
Mereka bekerja sama dengan Teater Tigakoma UMK, Teater Satoesh UIN Kudus dan Keluarga Segitiga Teater untuk mementaskan ’Martir’ di Kota Kretek.
Sementara pentas ke dua akan dilangsungkan di Auditorium Kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Pada agenda yang berlangsung pada Rabu (17/12/2025) mendatang. Kali ini, Teater Minatani bekerja sama dengan Teater Wadas UIN Walisongo Semarang.
Pimpro ’Martir’, Arif Khilwa mengatakan, pementasan tersebut nantinya akan menyajikan sesuatu yang tak biasa dan berbeda dari pementasan pada umumnya.
”Akan ada kolaborasi seniman rupa, penyair, musisi, dan fotografer dalam satu paket pertunjukan yang unik,” ujarnya kepada Murianews.com, Jumat (28/11/2025).
Penonton yang datang dengan banyak beban referensi dan ego disebut Arif mungkin akan kesulitan menikmati sajian ini.
”Biasanya penonton datang dengan imajinasi dan ekspektasi masing-masing. Mereka menuntut panggung menampilkan apa yang sudah mereka pikirkan sebelumnya. Begitu ada yang tidak sesuai, ya sudah, kekecewaan pun muncul,” lanjut dia.
Tak Sekedar Hiburan...
Namun, bagi penonton yang siap menerima apa pun yang hadir di panggung, pertunjukan ini bisa memberikan pengalaman segar. Pertunjukan ini pun dinilai bisa menjadi trobosan baru di dunia teater.
”Pentas ini mungkin tidak sekadar hiburan, tapi kesempatan memantik diskusi dan membuka perspektif baru,” ujarnya.
Sementara itu, Yudi Dodok, Sutradara ’Martir' menyebut pementasan yang akan tersaji merupakan pembacaan atas kekuasaan, relasinya dengan perjuangan, perlawanan, kemerdekaan, dan kemandirian.
”Sebuah puitika rakyat tertindas, duka masyarakat kelas bawah. Mengangkat kearifan lokal dan kekuatan perempuan melalui re-interpretasi sejarah,” kata dia.
Selain itu, penggabungan legenda dan isu-isu hari ini yang relevan dengan kondisi masyarakat juga akan menjadi poin menarik pada pementasan.
”Pementasan ’Martir’ nantinya akan mengajak semuanya untuk membaca lagi sejarah untuk harapan masa depan,” pungkasnya.
Editor: Supriyadi



