”Jadi stigma-stigma yang selama ini ada di masyarakat itu kan begitu parahnya. Makanya kita melakukan edukasi, melakukan sosialisasi dengan lintas komunitas. Jadi secara seni, nanti secara lingkungan, kita kolaborasi. Hari ini kita melakukan aksi damai, kita juga melakukan edukasi, pembagian bunga, pembagian buku, jadi secara masyarakat umum bisa tersampaikan,” tandas dia.
Puskesmas Jakenan juga ikut memeriahkan kegiatan ini. Programmer HIV/AIDS dari Puskesmas Jakenan, Dwi Sri Susiloningsih mengungkap, puskesmasnya menangani 102 pasien HIV/AIDS, mayoritas bukan warga Pati, melainkan pasien rujukan dari luar kecamatan, luar kabupaten, bahkan luar provinsi, seperti dari Tuban dan Lamongan.
“Jadi kalau data Pati tinggi, perlu kami luruskan, yang berobat di sini banyak yang dari luar kabupaten dan provinsi,” pungkasnya.
Murianews, Pati – Angka kasus HIV/Aids di Kabupaten Pati terus bertambah setiap hari. Kini, kasus HIV/Aids di Bumi Mina Tani menembus hingga 3.217 kasus.
Tingginya angka kasus HIV/Aids di Kabupaten Pati membuat Komunitas Rumah Matahari bergerak. Mereka mendampingi para pengidap atau Orang dengan HIV/Aids (ODHA) agar mempunyai semangat hidup.
”Kita sampaikan bahwa kenaikan angka HIV di Pati itu meningkat. Jadi total untuk kasus HIV sampai hari ini 3.217 kasus. Itu dari tahun 96 sampai September 2025. Tahun 2025 dari data Dinas Kesehatan itu ada total kasus 3.217 kasus,” tutur anggota Rumah Matahari, Prasetyo, Senin (1/12/2025).
Dirinya menilai angka tersebut bisa terus bertambah. Mengingat berdasarkan penemuan dari pihaknya setidaknya terdapat tambahan satu kasus dalam sehari.
”Khusus tahun ini kita data masih berjalan untuk update-nya nanti kita koordinasi dengan teman-teman karena update kan masih terus seperti gunung es gitu. Setiap tahun (ada penambahan). Satu kasus satu hari, temuan,” tandas dia.
Kondisi ini membuat pihaknya bergerak. Mereka terus berupaya mendukung dan menemukan ODHA agar segera mendapatkan penanganan. Komunitas Rumah Matahari menggelar berbagai edukasi kepada ODHA agar mau berobat dan tak menularkan HIV/Aids.
”Kita edukasi, kita bimbing supaya termasuk arah pengobatan agar tetap kontinu, tidak ada mengganggu fisik cahaya imunnya ya itu,” tutur dia.
Dalam rangka memperingati HIV/Aids yang diperingati 1 Desember, Rumah Matahari melakukan sosial kepada masyarakat. Mereka membagikan mawar dan buku di lampu merah GOR Pesantenan.
”Kita juga melakukan sosialisasi, jadi sosialisasi kegiatan-kegiatan yang kita jalankan dengan lintas komunitas. Lintas komunitas itu ada komunitas penyintas, terus dari teman-teman seni, terus peduli lingkungan, kita gabung. Nah, kegiatan kita itu ada podcast, terus juga ada kemarin lomba poster di gedung DPRD,” tutur dia.
Edukasi...
Ia berharap dari berbagai kegiatan ini, masyarakat memahami HIV/Aids dan tidak memberikan stigma buruk kepada ODHA. Pasalnya, stigma buruk ini sering kali membuat semangat hidup ODHA berkurang.
”Jadi stigma-stigma yang selama ini ada di masyarakat itu kan begitu parahnya. Makanya kita melakukan edukasi, melakukan sosialisasi dengan lintas komunitas. Jadi secara seni, nanti secara lingkungan, kita kolaborasi. Hari ini kita melakukan aksi damai, kita juga melakukan edukasi, pembagian bunga, pembagian buku, jadi secara masyarakat umum bisa tersampaikan,” tandas dia.
Puskesmas Jakenan juga ikut memeriahkan kegiatan ini. Programmer HIV/AIDS dari Puskesmas Jakenan, Dwi Sri Susiloningsih mengungkap, puskesmasnya menangani 102 pasien HIV/AIDS, mayoritas bukan warga Pati, melainkan pasien rujukan dari luar kecamatan, luar kabupaten, bahkan luar provinsi, seperti dari Tuban dan Lamongan.
“Jadi kalau data Pati tinggi, perlu kami luruskan, yang berobat di sini banyak yang dari luar kabupaten dan provinsi,” pungkasnya.
Editor: Cholis Anwar