Kisah Tukang Foto Menara Kudus, Bawa Cuan Segini Setiap Hari
Vega Ma'arijil Ula
Sabtu, 14 Oktober 2023 13:30:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Keuletan Subarkah, seorang tukang foto di kompleks Menara Kudus, Jawa Tengah berbuah manis. Dari jasa memotret peziarah, ia bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk menghidupi keluarganya.
Setiap harinya dia mampu membawa uang ratusan ribu. Subarkah dulunya merupakan pedagang jenang kaki lima di kawasan kompleks Menara Kudus. Itu dijalaninya sejak tahun 1989.
Kemudian, di tahun 2012 dirinya menjajal peruntungan lain menjadi fotografer di kawasan Menara Kudus. Langkah itu dicoba olehnya lantaran dagangan jenang yang dijualnya berangsur sepi.
”Saya lihat hasilnya kok sepertinya lebih menjanjikan jadi tukang foto. Akhirnya saya coba tekuni,” kata pria yang kini berdomisili di Desa Buaran, Kecamatan Mayong itu, Sabtu (14/10/2023).
Berbekal kamera Nikon D90 itu dirinya mulai menjajal sebagai jasa foto bagi para peziarah yang hendak mengabadikan momen di depan Menara Kudus.
Dalam sehari setidaknya dia mengantongi pendapatan bersih Rp 150 ribu sampai 200 ribu.
”Kalau dulu jualan jenang untuk mendapatkan Rp 200 ribu sehari sulit,” sambungnya.
Dirinya menyebut, saat ini permintaan jasa foto Menara Kudus lumayan ramai. Namun, dia tidak menampik harus ekstra keras untuk merayu peziarah agar mau difoto.
”Harga satu lembar foto ukuran 11R ini Rp 20 ribu. Penghasilannya nanti dibagi dua dengan tukang cetak fotonya,” terangnya.
Dalam sehari dia mampu menghasilkan 20 sampai 30 foto. Semakin rajin dia bernegosiasi dengan peziarah, penghasilannya turut bertambah.
”Alhamdulillah penghasilan cukup untuk menyekolahkan anak dan mencukupi kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya.
Editor: Ali Muntoha



