Kirab Hasil Bumi di Desa Kesambi Kudus, Ini Maknanya
Vega Ma'arijil Ula
Rabu, 17 April 2024 16:12:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Kirab hasil bumi Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah menampilkan gunungan hasil bumi hari ini, Rabu (17/4/2024). Puluhan gunungan itu representasi dari masyarakat Desa Kesambi yang mayoritas merupakan petani.
Kepala Desa Kesambi Mokhamad Masri mengatakan, masyarakat membawa 12 hasil bumi yang dibawa oleh masing-masing RW. Terdiri dari 11 RW dari Desa Kesambi ditambah satu gunungan dari Pemdes Kesambi.
”Gunungan hasil bumi ini swadaya dari masyarakat yang di koordinir dari ketua RW masing-masing,” katanya, Rabu (17/4/2024).
Puluhan gunungan itu dikirab dari Balai Desa Kesambi. Kemudian diarak keliling desa dan berakhir di obyek wisata Mbalong Sangkal Putung.
”Startnya dari Balai Desa Kesambi dan finish di wisata Mbalong Sangkal Putung. Kemudian gunungan hasil bumi diperebutkan,” sambungnya.
Dia menjelaskan, tujuan adanya kirab sebagai bentuk untuk menghormati leluhur. Selain itu untuk menjaga persatuan antar warga.
”Di Kesambi mayoritas petani. Maka dari itu kami tonjolkan hasil bumi. Di gunungannya ada ketupat karena bertepatan dengan momen lebaran ketupat,” terangnya.
Gelaran kirab hasil bumi tahun ini lebih meriah dibandingkan dengan tahun lalu. Sebab, jumlah gunungan hasil bumi saat ini lebih banyak.
”Tahun ini ada 12 gunungan hasil bumi. Sedangkan di tahun lalu hanya satu gunungan saja,” ujarnya.
Di akhir acara itu, masyarakat beramai-ramai berebut hasil bumi. Hal itu sebagai bentuk ngalap berkah.
”Warga berebut gunungan sebagai bentuk ngalap berkah hasil bumi,” imbuhnya.
Editor: Dani Agus



