Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus menemukan mayoritas keluarga siswa SD 5 Hadipolo berasal dari kelompok ekonomi bawah.

Hasil itu diperoleh dari verifikasi lapangan kondisi sosial ekonomi 29 siswa di sekolah tersebut.

Kepala Dinsos P3AP2KB Kabupaten Kudus Putut Winarno mengatakan, hasil pengecekan menunjukkan sebagian besar siswa berada pada desil satu hingga empat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sementara enam siswa lainnya masuk kategori di atas desil empat.

”Dari hasil pengecekan, mayoritas masih berada di desil satu sampai empat,” ujarnya, baru-baru ini.

Verifikasi dilakukan sebab belakangan ini sempat menjadi perhatian publik karena kawasan tersebut kerap dikaitkan dengan stigma Kampung Sosial. Pendataan itu memastikan kondisi sosial ekonomi setiap keluarga sebagai dasar penyusunan pendampingan.

Selain itu, pihaknya masih menemukan dua siswa yang belum berhasil diverifikasi karena keberadaan domisilinya berpindah-pindah. Meski demikian, identitas kependudukan keduanya masih tercatat.

Hasil pendataan...  

Ia menjelaskan, hasil pendataan juga menunjukkan masih ada keluarga siswa yang belum menerima bantuan sosial. Dari hasil verifikasi, sekitar enam keluarga tercatat menerima Program Keluarga Harapan (PKH), sedangkan penerima bantuan sembako sekitar tujuh keluarga.

Sementara itu, masih terdapat sejumlah keluarga yang belum memperoleh bantuan iuran BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI).

”Iya memang ada yang belum dapat bantuan,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa verifikasi lapangan tetap diperlukan agar bantuan sosial dapat diberikan tepat sasaran sesuai kondisi riil masyarakat.

Dari sisi pekerjaan, mayoritas orang tua siswa bekerja sebagai buruh harian lepas. Penghasilan ayah maupun ibu rata-rata sekitar Rp1 juta per bulan.

Tingkat pendidikan orang tua juga relatif rendah. Sebagian besar hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar, bahkan ada yang tidak mengenyam pendidikan formal.

Kondisi pendidikan orang tua...  

”Kondisi pendidikan orang tua juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Karena itu keluarga-keluarga ini memang membutuhkan pendampingan,” ucapnya.

Berdasarkan hasil pemantauan, pihaknya menemukan sebagian orang tua mencari penghasilan dengan mengamen maupun mengemis. Namun secara umum pekerjaan yang mendominasi tetap buruh harian lepas.

Sebagai tindaklanjut, Dinsos akan melakukan pendampingan secara terpadu. Pendampingan tersebut meliputi perlindungan perempuan dan anak, keluarga berencana, kesehatan, hingga koordinasi dengan Disdikpora Kudus agar anak-anak tetap dapat bersekolah tanpa hambatan.

”Semua bidang di Dinsos akan masuk melakukan pendampingan. Kami juga bekerja sama dengan bidang pendidikan supaya anak-anak bisa tetap sekolah dan pendidikannya tidak terganggu,” imbuhnya.

Editor: Anggara Jiwandhan

 

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News