Sendang Rejoso, Tempat Sunan Muria Wudu hingga Mandikan Kuda
Yuda Auliya Rahman
Jumat, 15 September 2023 16:08:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Sendang Rejoso, yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dulu menjadi tempat Sunan Muria atau Raden Umar Said untuk wudu hingga memandikan kuda.
Sendang ini berada di tepi ruas jalan yang mengarah ke kawasan Makam Sunan Muria. Sendang Rejoso juga menjadi tempat untuk menjalankan Tradisi Guyang Cekathak seperti yang digelar pada Jumat (15/9/2023) pagi.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) Mastur mengatakan, Sendang Rejoso merupakan satu-satunya mata air sendang yang ada di desa setempat. Konon adanya Sendang Rejoso tersebut dulunya berawal dari lokasi mata air yang diperuntukkan mengambil wudu Sunan Muria cukup jauh.
Sehingga Sunan Muria memerintahkan rerewangnya untuk memindahkan mata air tersebut agar lebih dekat.
”Konon dulu tempat wudunya (Sunan Muria) jauh berkilo-kilometer. Kemudian beliau mengutus Nyai Ageng Ratu (rerewang) untuk memindahkannya agar lebih dekat. Tapi karena saat akan dipindahkan itu sudah masuk waktu subuh (fajar, red) akhirnya berhenti disini, dan jadi sendang ini,” katanya, Jumat (15/9/2023).
Ia menjelaskan, semasa hidup Sunan Muria, sendang tersebut dipergunakan untuk berwudu, memenuhi kebutuhan rumah tangga, hingga memandikan kuda putih milik Mbah Sunan. Sunan Muria dulu selalu memandikan kuda putih miliknya setiap masuk pertengahan musim kemarau.
Dari hal itu lah akhirnya nenek moyang terdahulu mulai mengadakan guyang cekathak (pelana kuda).
”Nah sampai saat ini kami selalu adakan tradisi warisan nenek moyang ini. Karena kudanya sudah tidak ada, jadi pakai pelana kudanya yang kami sebut cekathak untuk dimandikan di sendang,” ucapnya.
Editor: Dani Agus



