Mengenal Atmowidjojo, Bapak Saudagar Kretek Kudus
Muhamad Fatkhul Huda
Minggu, 29 Juni 2025 18:02:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Lalu, ia berusaha membuat rokok klobot pertamanya bernama Earste yang berarti yang pertama. Pada tahun 1913, ia resmi membuka pabrik rokok dengan produk Tjap Goenoeng Kedoe, Romah, dan Kerandjang.
”Usahanya ini berkembang pesat menjelang pecahnya perang dunia, saat itu ia mempekerjakan sekitar 6000 pekerja, ini menempatkan pabriknya terbesar kedua setelah Nitisemito,” ungkapnya.
Atmowidjojo meninggal pada 1945. Masjid Pringinan atau Masjid Ar-Rasyidun di kawasan Taman Menara Kudus dan tanah wakaf yang kini dibangun Masjid Krapjak atau Masjid Istiqlal Kudus di Desa Kerjasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus merupakan warisan peninggalannya.
Ia juga menyampaikan wasiat penting kepada anak bungsunya, M Roesdi sebelum meninggal.
”Pesannya kepada Roesdi yakni, Wong ngalah iku ngarep dadi tata krama, ing mburi nginceng barang kang wingit yang memiliki makna, mengalah bukan berarti kalah, tapi sebuah jalan menuju hal-hal yang berharga di kemudian hari,” ungkapnya.
Editor: Zulkifli Fahmi



