Jumat, 23 Februari 2024

Ini Penyebab Usulan Biaya Haji Jauh Lebih Tinggi dari Tahun 2023

Ali Muntoha
Selasa, 14 November 2023 14:08:00
Ilustrasi: Jemah haji Indonesia tengah menaiki bus di Arab Saudi. (Istimewa/Kemenag)

Murianews, Jakarta – Pemerintah mengusulkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1445 H/2024 M dengan rata-rata sebesar Rp 105 juta per orang. Usulan ini jauh lebih tinggi dari BPIH tahun 2023 lalu yang ditetapkan sebesar Rp 90.050.637,26.

BPIH 2023 ini ditetapkan dengan asumsi kurs 1 USD sebesar Rp 15.150 dan 1 SAR sebesar Rp 4.040. Nilai BPIH ini lebih rendah dari usulan Kemenag yakni sebesar Rp 98.893.909,11.

Dari total BPIH itu, Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayar per jemaah haji pada 2023 yakni sebesar Rp 49.812.700,26 (55,3%). Sementara sisanya diambilkan dari nilai manfaat sebesar rata-rata Rp 40.237.937 (44,7%).

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief menjelaskan penyeb usulan BPIH 2024 ke DPR jauh lebih tinggi dibanding biaya haji 2023.

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab, antara lain kenaikan kurs, baik dolar AS maupun riyal Arab Saudi, dan penambahan layanan.

”Biaya haji 2023, disepakati dengan asumsi kurs 1 USD sebesar Rp 15.150 dan 1 SAR sebesar Rp 4.040. Sementara usulan biaya haji 2024 disusun dengan asumsi kurs 1 USD sebesar Rp 16.000 dan 1 SAR sebesar Rp 4.266,” kata Hilman, dikutip dari Kemenag, Selasa (14/11/2023).

Menurut dia, asumsi kurs yang diambil lebih tinggi melihat kondisi belakangan yang juga menguat. Ia mencontohkan nilai tukar dolar terhadap rupiah hari ini sudah di anagka Rp 15.700-an.

”Nah, dalam usulan BPIH kita gunakan asumsi Rp 16.000 karena kurs memang sifatnya sangat fluktuatif. Ini yang dalam skema Panja akan dibahas bersama dengan ahli keuangan untuk menentukan kurs yang paling tepat pada asumsi berapa," ujarnya.

Selisih kurs ini, kata Hilman, berdampak pada kenaikan biaya layanan haji yang bisa diklasifikasikan dalam tiga jenis. Pertama, layanan yang harganya tetap atau sama dengan tahun 2023. Kenaikan dalam usulan BPIH 2024 terjadi karena adanya selisih kurs.

”Misalnya, transportasi bus salawat. Kami mengusulkan biaya penyediaan transportasi bus salawat tahun ini sama dengan 2023, sebesar SAR146. Tapi asumsi nilai kursnya berbeda. Sehingga ada kenaikan dalam usulan,” sebut Hilman.

Kedua, layanan haji yang harganya naik dibanding tahun lalu. Kenaikan usulan terjadi karena kenaikan harga dan selisih kurs. Ia mencontohkan, akomodasi di Madinah dan Makkah.

”Pada 2023, sewa hotel di Madinah rata-rata SAR 1.373, tahun ini kita usulkan SAR 1.454. Demikian juga di Makkah, ada kenaikan usulan dari tahun sebelumnya,” ujar Hilman.

Ketiga, layanan haji yang harganya naik dan volumenya bertambah. Kenaikan usulan terjadi karena selisih harga, selisih volume, dan juga selisih kurs.

Ia mencontohkan konsumsi haji di Makkah, tahun lalu disepakati dengan Komisi VIII DPR hanya 44 kali makan, meski pada akhirnya bisa disesuaikan menjadi 66 kali makan.

”Tahun ini kami usulkan layanan konsumsi di Makkah menjadi 84 kali makan, dengan rincian 3 kali makan selama 28 hari. Sehingga ada selisih volume. Harga konsumsi per satu kali makan pada tahun lalu dibanding tahun ini juga naik. Kenaikan bertambah seiring adanya perbedaan kurs,” paparnya.

Hilman menegaskan bahwa usulan BPIH 2024 masih akan dibahas bersama Panja yang beranggotakan pihak pemerintah dan DPR.

Panja akan melakukan serangkaian rapat, termasuk rapat membahas asumsi kurs yang paling ideal. Panja juga akan melakukan pengecekan harga layanan, baik di dalam negeri maupun di Saudi.

”Jadi berapa biaya haji 2024, masih menunggu hasil kerja Panja yang akan dibawa ke Rapat Kerja Komisi VIII DPR. Nantinya akan disepakati juga berapa biaya yang harus dibayar jemaah haji dan berapa yang bersumber dari nilai manfaat,” tegasnya.

 

Komentar